Islam mengedepankan keutamaan menuntut ilmu

Islam mengedepankan keutamaan menuntut ilmu. Pertanyaan yang kini muncul adalah: ‘Apa relevansi Al-Qur’an dan Hadits dengan ilmu pengetahuan Islam?’ Pada awalnya, segala sesuatu yang Islami di pengaruhi oleh dua sumber ini. Proses belajar orang Arab di mulai dengan Al-Qur’an dan yang lainnya mengikutinya. Nabi memberi tahu para sahabatnya: “Hikmah adalah objek bagi orang-orang yang beriman” . Jadi Nabi Muhammad menciptakan insentif untuk mengejar semua jenis pengetahuan, termasuk sains dan filsafat.

Pertanyaan-pertanyaan yang harus kita ajukan dan yang harus kita temukan jawabannya adalah: ‘Apakah Islam mendorong atau melumpuhkan ilmu pengetahuan dalam arti luas dan ilmu-ilmu sekuler pada khususnya? Apakah ada konflik antara akal (‘aql) dan wahyu (wahy) dalam Islam?’ Apakah Islam benar benar mengedepankan keutamaan menuntut ilmu?

Istilah Arab ‘ilm secara harfiah berarti ilmu dan pengetahuan dalam arti luas. Ini berasal dari kata kerja Arab ‘alima, untuk mengetahui, untuk belajar. Oleh karena itu, ‘ilm menyiratkan belajar dalam arti umum. Nabi Muhammad, seperti semua Nabi Semit sebelum dia, adalah seorang pendidik dan mentor spiritual. Dia berpendapat tentang keutamaan menuntut ilmu (‘ilm) adalah kewajiban (fardh) bagi setiap Muslim. Pernyataan ini tidak salah lagi menempatkan prioritas tertinggi untuk pengetahuan dan mendorong umat Islam untuk dididik.

Keutamaan menuntut ilmu adalah lebih baik dari Ibadah ritual secara umum

Pernyataan lain memuji ilmu agama bahkan lebih tinggi, mempertahankan bahwa itu adalah kunci berbagai manfaat dan berkah dan bahwa mereka yang mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits mewarisi peran para nabi kuno. Dalam pernyataan terpisah, Muhammad mengatakan bahwa para ulama (‘ulama’) adalah wali para Rasul (Allah) (umana’ al-Rusul). Dalam memuji ilmu, Nabi juga bersabda bahwa menuntut ilmu lebih utama dari shalat (Shalat), puasa (selama Ramadhan), haji (haji) dan perjuangan Islam (Jihad) dalam mempromosikan jalan Allah .

Hadits Hadits tetang keutamaan menuntut Ilmu

Pertama, di berikan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

Quran Surat Al-Mujadilah Ayat 11

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa’illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila di katakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di katakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. alMujadillah/58:11)

Kedua, di berikan pahala yang besar di hari kiamat nanti.

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Penuntut ilmu adalah penuntut rahmat, dan penuntut ilmu adalah pilar Islam dan akan di berikan pahalanya bersama para nabi.” (H.R. ad-Dailami)

Ketiga, merupakan sedekah yang paling utama.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah jika seorang muslim mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” (H.R. Ibnu Majah)

Keempat, lebih utama daripada seorang ahli ibadah.

Dari Ali bin Abi Talib ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang alim yang dapat mengambil manfaat dari ilmunya, lebih baik dari seribu orang ahli ibadah.” (H.R. ad-Dailami)

Kelima, lebih utama dari śalat seribu raka’at.

Dari Abu Żarr, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Aba ªarr, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu daripada śalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik di laksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada śalat seribu rakaat.” (H.R. Ibnu Majah)

Keenam, di berikan pahala seperti pahala orang yang sedang berjihad di jalan AllahSwt.

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Bepergian ketika pagi dan sore guna menuntut ilmu adalah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah.” (H.R. ad-Dailami)

Ketujuh, di naungi oleh malaikat pembawa rahmat dan di mudahkan menuju surga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah sekumpulan orang yang berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah (masjid) Allah ‘Azza wa Jalla, mereka mempelajari kitab Allah dan mengkaji di antara mereka, melainkan malaikat mengelilingi dan menyelubungi mereka dengan rahmat, dan Allah menyebut mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya. Dan tidaklah seorang meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu melainkan Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Tradisi terakhir ini sering di salahartikan oleh sebagian umat Islam yang berpikir (secara keliru) bahwa belajar agama dan menuntut ilmu membebaskan mereka dari shalat, puasa, haji dan jihad. Ini sama sekali bukan maksud dari pernyataan itu. Yang di tekankan adalah bahwa pendidikan agama tidak kalah pentingnya dengan waktu dan usaha yang di curahkan untuk Sholat, Sawm, Haji dan Jihad. Dengan demikian, belajar mendapat prioritas di atas tugas-tugas biasa orang percaya.

Menuntut Ilmu dan Pengetahuan adalah Ibadah

Keutamaan menuntut ilmu

Konsep sains dan pengetahuan juga tersebar luas dalam Hadis Nabi dan dalam surat-surat belles (adab) Arab. Hal itu hanya membuktikan bahwa Islam mengilhami pemeluknya untuk memikirkan ilmu atau pengetahuan tidak hanya untuk nilai spiritual dan utilitariannya, tetapi juga sebagai amal ibadah. Beberapa ucapan yang di kaitkan dengan Nabi Muhammad mengangkat pencarian pengetahuan sebagai tindakan ibadah. Wacana pengetahuan dalam sumber-sumber bahasa Arab seringkali menggunakan dua istilah, ‘ilm dan ‘aql. Yang pertama berlaku untuk pengetahuan suci serta ilmu profan, dan ‘aql berkonotasi intelek atau kecerdasan.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Baca Juga:

Sejarah ilmu pengetahuan Islam

Ujian hidup adalah Parameter Tingkat keimanan

Ujian Hidup Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah; maka semakin berat ujian dan cobaan yang di berikan Allah Subhaanahu wata’aala kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang di cintai Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang di rundung dan di dera dengan berbagai ujian ;mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, gunung meletus, flu burung, busung lapar; gizi buruk, harga melonjak di tambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi; akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari ujian yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.

Sesungguhnya di balik ujian atau musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar; dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhaanahu wata’aala yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya; di antara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

Ujian hidup dalam bentuk Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiata.

Ujian hidup dalam bentuk Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ – الشورى: 30

artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka di sebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri; dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman; jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Di riwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Tidak ada penyakit; kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain beliau bersabda; “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata. “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

Ujian Hidup adalah harga untuk Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari musibah yang di derita oleh seorang hamba sewaktu di dunia; sebab kegetiran hidup yang di rasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain di sebutkan, “Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

Ujian hidup merupakan parameter kesabaran seorang hamba.

Sebagaimana di tuturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya; namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut; maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan di tulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan di tulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan di tulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba; maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika di timpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.”

Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ – فصلت: 51 

artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia di timpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang di derita. Apabila seseorang di timpa musibah baik berupa kefakiran;, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a; dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana di lakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa; “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya ;”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah di timpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

Ujian akan Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

Ujian hidup Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah di timpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas; lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia di timpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap;dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari diri nya. Dia tak akan mampu menguasai kematian; terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.

Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata; sehingga ia mengadu; “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu. ” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis; ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

Banyaknya Ujian Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan

Di riwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda; “Barang siapa yang di kehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa di lakukan oleh orang yang sakit.

Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini di karenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut; maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam;, “Tidak seorangpun yang di timpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintah-kan kepada para malaikat untuk menjaganya . Allah berfirman kepada malaikat itu; “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah

Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan; dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah; di harapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah Subhaanahu wata’aala.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah ;sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya; dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang di terimanya dengan keridhaan dan kesabaran; serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu; “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah di angkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat. ” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)

Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing; apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah; yang sedang disiksa dan di murkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Baca Juga:

Memahami Takdir dan Menemukan Hikmah Yang Ada di Baliknya

Nikah adalah Ibadah

Nikah adalah ibadah, sebagaimana yang Rosululloh sampaikan dalam suatu hadits “Nikah itu adalah sunnah-ku, barang siapa membenci sunnahku, bukanlah bagian dari kami.”(Al Hadis). Demikian sabda Rasulullah untuk mendorong kaum muslimin menikah. Hadis ini juga sesungguhnya merupakan kunci dari langgengnya sebuah pernikahan. Saat Rasulullah bersabda pernikahan itu ibadah (sunnah), maka mengamalkannya adalah ibadah kepada Allah SWT. 

Pernikahan adalah Ibadah

Kisah Nabi Yusuf dalam Al Quran

Nabi Yusuf ini adalah putra tercinta Nabi Yaqub (Yakub), yang juga memiliki 11 orang anak-anak lainnya. Binyamin, yang adalah anak bungsu dari ibu yang sama seperti Yusuf, sedangkan sisanya adalah setengah saudara tuanya. Kisah Nabi Yusuf ini sebagaimana di ceritakan dalam Al Quran dalam Surat Yusuf.

Nabi Yusuf saat masih remaja

Yusuf, masih seorang anak muda, terbangun suatu pagi yang mulia senang dengan mimpi yang ia punya. Dia berlari ke ayahnya dalam kegembiraan dan berkata, “Wahai ayahku, sesungguhnya aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Yaqub sangat gembira dalam kesadaran bahwa anak kesayangannya itu memang di pilih oleh Allah untuk diberikan dengan Kenabian. Namun, Yaqub khawatir tentang anak-anak yang lebih tua’ mungkin reaksi terhadap narasi ini, bahkan meskipun ia memperlakukan mereka sama, mereka memendam kecemburuan terhadap Yusuf. Karena itu ia memperingatkan Yusuf melawan berkaitan mimpinya kepada saudara-saudaranya, supaya jangan mereka merencanakan untuk kejatuhannya.

Kisah Nabi Yusuf dan saudara saudaranya

Kedengkian saudara saudara Nabi Yusuf

Dengan berlalunya waktu, kedengkian di hati saudara-saudara Yusuf yang terus berkembang. Mereka iri pada Yusuf karena mereka merasa ia khusus dan mereka tidak. Mampu menangani emosi mereka, mereka menyusun rencana untuk menyingkirkan Yusuf dengan melemparkan dia ke dalam sumur. Jadi, satu hari mereka mendekati ayah mereka dan menyarankan bahwa ia mengirim Yusuf datang dengan mereka di jalan-jalan. Sangat enggan Yaqub mengatakan, “Memang, saya merasa sedih bahwa anda harus mengambil dia dan aku khawatir kalau-kalau dia di makan serigala, sementara anda tidak menyadari.” Tapi saudara-saudara bersikeras bahwa mereka akan mengambil sangat hati-hati dia dan bahwa mereka Yusuf akan menikmati dirinya sendiri.

Tipu daya saudara saudara nabi Yusuf

Kisah nabi Yusuf
Kisah nabi Yusuf dan tipu daya saudara saudaranya

Hari berikutnya, Yusuf dengan saudara-saudaranya. Mereka melakukan perjalanan yang jauh, dalam mengejar nah cukup dalam untuk membuang saudara mereka di. Ketika mereka akhirnya mereka mencapai nah, dengan dalih air minum mereka membawanya untuk itu, menangkapnya, dan di hapus kemejanya. Yusuf mulai berjuang dan memohon kepada mereka untuk membiarkan pergi. Saudara-saudara akhirnya keluar bertenaga Yusuf dan melemparkan dia ke dalam sumur dan bergegas kembali ke rumah.

Saudara-saudara berlari ke ayah mereka membawa Yusuf kemeja yang di olesi dengan darah domba. Mereka berseru, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba dengan satu sama lain dan kami tinggalkan Yusuf dengan harta kita, dan serigala memakannya.” Yaqub sudah curiga dari cerita mereka, dia di dalam hatinya percaya anaknya masih hidup dan bahwa saudara-saudara yang mungkin di goda oleh setan (setan) untuk melakukan kejahatan. Ia mengatakan bahwa serigala itu memang penyayang telah di makan anaknya hingga tanpa merobek kemejanya! Ia menanggung dukacita dengan kesabaran dan berdoa untuk anaknya kembali dengan selamat.

Allah menyelamatkan nabi Yusuf

Sementara itu, Yusuf berhasil melekat ke batu langkan, dia berdoa sungguh-sungguh kepada Allah untuk memberinya keselamatan. Segera, kafilah menuju Mesir berhenti di sumur ini untuk mengambil air. Air laci di angkut ember nya dan terkejut melihat anak laki-laki tampan berpegangan ke tali. Para kafilah orang-orang segera terbelenggu Yusuf dan membawanya bersama ke Mesir. Di sini, ia dilelang dan di jual sebagai budak kepada penawar tertinggi yang terjadi untuk menjadi bendahara, Al-Aziz. Yusuf induk baru, yang tidak punya anak, itu benar-benar di ambil dengan Yusuf. Dia mengatakan kepada istrinya untuk mengambil perawatan yang baik dari Yusuf dan mereka juga bisa menggunakan dia sebagai budak atau membawanya untuk anak.

Kisah nabi Yusuf dan Zulaika, istri Al-Aziz

Godaan nabi Yusuf dalam rumah tangga Al-Aziz

Yusuf tidak hanya tumbuh menjadi seorang pria muda yang tampan tapi juga di berkati dengan pengetahuan yang luar biasa dan kebijaksanaan oleh Allah. Kejujurannya memenangkan hati dari Al-Aziz, yang selanjutnya menempatkan nabi Yusuf dalam rumah tangganya. Selama periode ini, Yusuf di hadapkan dengan percobaan kedua. Zulaika, Al-Aziz istri, yang menyaksikan Yusuf hari demi hari, mulai merasa bergairah terhadab dia. Obsesinya meningkat ke tingkat di mana ia sempat putus asa untuk memenuhi keinginannya.

Rayuan Zulaika terhadab nabi Yusuf

Suatu hari, ketika suaminya pergi dari rumah, dia menutup pintu dan mengundang Yusuf padanya. Yusuf, takut Allah, lalu menjawab, “[aku berusaha] memohon perlindungan kepada Allah. ” Dia berbalik dan berjalan menuju pintu yang tertutup untuk melarikan diri. Zulaika mengejarnya dalam keputusasaan dan meraih bajunya dari belakang yang menyebabkan bajunya robek. Pintu di buka dan Al-Aziz masuk. Dia berlari kepadanya dan menangis, “Apa balasan dari orang yang berniat jahat untuk istrimu, selain di penjarakan atau azab yang pedih?” Yusuf bingung. Ia terus menyangkal majikannya itu lalu berkata, “Itu dia yang berusaha untuk merayuku.”

Al-Aziz adalah orang yang adil. Ia bingung dan tidak yakin siapa yang harus percaya. Sehingga ia berkonsultasi dengan sepupu istrinya untuk meminta nasihat. “Jika baju gamisnya koyak di muka, maka dia telah mengatakan yang sebenarnya, dan dia adalah pembohong,” saran sepupunya. Dengan demikian, Yusuf tidak bersalah terbukti. Al-Aziz meminta maaf atas istrinya adalah perbuatan keji dan Yusuf bersumpah untuk menjaga rahasia.

Kisah wanita wanita yang memotong tangannya sendiri

Namun demikian, kisah Zulaika menyebar. Wanita lain mulai mengejek karakternya. Tertekan, Zulaika merencanakan untuk membuktikan kepada mereka dia tak berdaya reaksi Yusuf untuk ketampanan yang luar biasa. Oleh karena itu, dia mengundang para wanita untuk jamuan di kediamannya satu hari. Di sana ia melayani mereka buah dengan pisau. Ketika wanita yang senang mengobrol saat mengiris buah-buahan, Zulaika memanggil Yusuf. Wanita itu menatapnya. Heran seperti malaikat kecantikan, mereka memotong tangan mereka tanpa menyadari mereka punya. Zulaika menyita waktu untuk mengumumkan bahwa ini adalah orang untuk siapa ia di salahkan. Dia kemudian memperingatkan Yusuf bahwa jika dia menolak dia lagi dia akan di penjarakan, yang Yusuf menjawab, “Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada yang mereka mengundang saya.” Malam itu Zulaika meyakinkan suaminya bahwa satu-satunya cara untuk menjaga kehormatan dan prestise-nya adalah untuk memenjarakan Yusuf. Dengan demikian, Yusuf di lemparkan ke dalam penjara.

Kisah Nabi Yusuf di dalam penjara

Selama Yusuf saat di penjara, ia di anugerahi kemampuan untuk menafsirkan mimpi. Dua dari Yusuf pasangan sel, terpesona oleh kesalehannya, dia berusaha untuk memiliki mimpi-mimpi mereka menjelaskan. Satu bermimpi bahwa ia sedang melayani raja anggur dan yang lainnya membawa roti di atas kepalanya yang dua burung yang makan. Yusuf awalnya di sebut mereka kepada Allah, kemudian di tafsirkan, “Hai kedua penghuni penjara, adapun salah satu dari anda, ia akan memberi minum tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan di salib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Masalah ini telah menetapkan tentang apa yang anda berdua menanyakan.” Dan dia berkata kepada orang yang ia tahu akan pergi gratis, “terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.” Tapi Setan menjadikan dia lupa menyebutkan [untuk] tuannya, dan Yaqub tetap tinggal di penjara beberapa tahun.

Kisah Nabi Yusuf Menafsirkan mimpi raja Mesir

Suatu hari raja Mesir memiliki mimpi aneh. Dia memanggil anak buahnya dan berkata, “Memang, aku telah melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh [yang] ramping, dan tujuh paku hijau [gabah] dan lain-lain [yang] kering. Hai pembesar kaumku, menjelaskan kepada saya visi saya, jika anda harus menafsirkan visi.” Juru minuman, yang segera teringat temannya di penjara, memberitahu Raja Yusuf dan berbagai interpretasi mimpi. Raja yang dikirim dari juru minuman ke penjara untuk bertemu dengan Yusuf dan menanyakan tentang mimpi aneh.

Yusuf sangat gembira saat melihat temannya dan tahu bahwa ini memang rencana AllahDia menceritakan kepadanya, “Anda akan menanam selama tujuh tahun berturut-turut; dan apa yang anda panen meninggalkan di paku, kecuali sedikit dari yang anda akan makan. Kemudian akan datang setelah itu, buah yang akan mengkonsumsi apa yang anda maju [disimpan] bagi mereka, kecuali sedikit dari yang anda akan menyimpan. Kemudian akan datang setelah itu, tahun di mana orang-orang akan mengingat hujan dan di mana mereka akan tekan [zaitun dan anggur].”

Kagum, raja memerintahkan Yusuf untuk dipresentasikan di hadapan-nya. Yusuf, bagaimanapun, menolak untuk meninggalkan penjara sampai dia tidak bersalah terbukti. Raja dipanggil dengan demikian wanita yang berkaitan dengan Yusuf insiden tersebut. Wanita yang memiliki tangan mereka di potong, berbicara tentang Yusuf tidak bersalah di hadapan Raja, “Allah melarang! Kita tahu tentang dia tidak jahat.”

Istri Al-Aziz terjebak. Dia mengaku kepada Raja, “Sekarang jelaslah kebenaran itu telah menjadi jelas. Aku telah berusaha untuk menggodanya, dan memang, dia adalah benar.”

Kisah Nabi Yusuf di angkat sebagai Pejabat kerajaan

Dengan demikian, Yusuf tidak bersalah terbukti. Di bebaskan dari penjara, Yusuf berdiri di hadapan Raja untuk berterima kasih atas kemurahan hatinya. Raja yang sangat terkesan oleh Yusuf jujur tingkah laku dan kepribadian yang menyenangkan di pimpin dia untuk di angkat sebagai pemilik toko atas gudang di lahan miliknya.

Nabi Yusuf bertemu kembali dengan saudara saudaranya

kisah nabi yusuf
Kisah Nabi Yusuf bertemu saudaranya

Yusuf di panen dan di simpan tanaman selama tujuh tahun dari kesuburan. Maka tidak mendekati tahun-tahun kelaparan, yang juga mencapai rumah tangga Yaqub di Kanaan. Yaqub dikirim semua anak-anaknya kecuali Binyamin ke Mesir untuk membeli perbekalan. Yusuf segera di akui saudara-saudara-nya dan di sediakan untuk mereka, tapi terus identitasnya di samarkan. Dia dengan santai bertanya tentang keluarga mereka. Saudara-saudara memberitahu pemilik toko dari rumah mereka kembali di tanah Kanaan, dan mereka ayah dan saudaranya kembali ke rumah. Yusuf memberitahu mereka untuk membawa adik mereka sepanjang waktu berikutnya, atau mereka akan menerima tidak ada ketentuan lebih lanjut. Dia juga menempatkan uang mereka telah membayar dengan persediaan mereka sebagai insentif untuk kembali.

Nabi Yusuf bertemu dengan adiknya

Saudara-saudara kembali ke rumah dan berkata, “Wahai ayah kami, ukuran telah ditolak dari kita, sehingga mengirim dengan kita, saudara kita [yang] kita akan diberikan ukuran. Dan memang, kita akan menjadi wali-nya.” Yaqub marah. Bagaimana ia bisa percaya mereka ketika mereka telah gagal dengan sangat Yusuf sebelumnya? Setelah beberapa waktu, namun, kebutuhan mereka di tekan Yaqub untuk mengirim Binyamin dengan mereka untuk ketentuan lebih lanjut. Ia mengambil sumpah mereka untuk menjaga dia. Ketika mereka sampai di Mesir, Yusuf menarik Binyamin samping dan berbisik ke telinganya, “Memang, aku adalah kakakmu, jadi jangan putus asa atas apa yang mereka kerjakan [untuk saya].”

Nabi Yusuf dengan mangkuk emas

Hari berikutnya, Yusuf di isi saudara-saudaranya’ tas dengan biji-bijian. Dia kemudian diam-diam di tanam Raja mangkuk emas di tas Binyamin.

Pada berangkat, saudara-saudara di hentikan oleh tentara Raja yang sedang mencari Raja yang hilang cup. Tas dari saudara-saudara’ di geledah dan cangkir yang hilang di ambil dari tas dari adik bungsu, Binyamin. Para prajurit berteriak, “Hai kafilah, sesungguhnya kamu adalah pencuri.” Saudara-saudara terkejut! Saudara-saudara segera teringat mereka yang sakit ayah kembali ke rumah, dan mereka bersumpah untuk menjaga Binyamin di semua biaya. Mereka meminta tentara untuk membebaskan saudara mereka yang lebih muda dan mengambil salah satu dari mereka tapi bukan tentara menolak. Yang tertua di antara saudara-saudara berkata, “Aku tidak akan pernah meninggalkan tanah ini, sampai ayahku mengizinkan saya atau Allah memutuskan untuk saya.” Sehingga seluruh saudara-saudara meninggalkan Mesir meninggalkan tertua di belakang.

Ketika Yaqub belajar dari anak bungsunya keadaan dia menangis dan menangis sampai ia menjadi buta. Dia terpaksa doa untuk kenyamanan karena dia tahu bahwa hanya Allah yang bisa meringankan rasa sakit. Segera, ia memerintahkan anak-anaknya untuk kembali ke Raja tanah dan menanyakan tentang saudara mereka.

Anak-anak kembali ke Mesir sekali lagi. Mereka bertemu dengan Yusuf dan mengaku bahwa tragedi telah menimpa mereka. Yusuf kemudian berbicara kepada mereka dalam bahasa asli mereka, “Apakah anda tahu apa yang anda lakukan dengan Yusuf dan saudaranya ketika kau bodoh?” Tidak butuh waktu lama bagi saudara-saudara untuk menyadari bahwa ini adalah memang mereka yang lama hilang saudara dan mulai gemetar ketakutan. Tapi Yusuf menghibur mereka mengatakan, “Tidak ada cela pada anda hari ini, semoga Allah mengampunimu.” Dia kemudian berkata, “Ambil ini, saya shirt, dan di lemparkan ke wajah ayahku; penglihatannya akan kembali.”

Bertemu dengan ayahnya

Seperti yang di perintahkan, saudara-saudara Yusuf kemeja dari ayah mereka dan wajah Allah secara ajaib di pulihkan penglihatannya! Mereka memohon ayahnya untuk mencari pengampunan Allah bagi mereka. Bersama-sama, mereka semua berangkat ke Mesir di mana Yusuf menyambut hangat kedatangan mereka. Yusuf di besarkan ayahnya di atas takhta dan berkata, “Wahai ayahku, ini adalah penjelasan dari visi saya sebelumnya. Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dan Ia tentu baik untuk saya ketika Dia membawa saya keluar dari penjara dan membawa anda [di sini] dari kehidupan suku badui setelah Setan telah diinduksi [kerenggangan] antara aku dan saudara-saudaraku. Memang, Tuhan saya adalah Halus dalam apa yang Dia kehendaki. Memang, Dialah yang maha Mengetahui lagi maha Bijaksana.” Dengan demikian, Allah bersatu kembali ayah dan anak.

Pelajaran:

Nabi Yusuf dari mimpinya tahu dia di takdirkan untuk kebesaran tapi sepertinya di setiap kesempatan hidupnya ia bertemu dengan kesulitan dan penderitaan. Dia dikhianati oleh saudara-saudaranya, di jual sebagai budak, dan di penjarakan secara tidak adil. Yusuf bisa saja memilih untuk menjadi pahit dan pertanyaan Allah dengan mengatakan, “saya pikir anda telah di tahbiskan untuk saya kebesaran”. Dia bisa dengan mudah mengeluh dan bertanya “mengapa hal ini terus terjadi padaku”. Tapi ia tahu, ia tahu Allah punya rencana untuk dia dan dia hanya menjaga iman. Yusuf tahu dengan hanya berfokus pada yang terbaik yang dia bisa, memperlakukan orang lain dengan baik dan dengan hormat, melakukan lebih dari apa yang di minta bahwa Allah akan menjaganya.

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Tidak pernah ada dalam Al-qur’an sebagai narasi yang di ciptakan, tetapi konfirmasi dari apa yang ada sebelum dan penjelasan rinci dari segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” – Surah Yusuf Ayat 111.

Baca Juga:

Peradaban Arab pra Islam

Pengaruh peradaban Mesopotamia terhadap Peradapan Islam

Kebangkitan Islam di jazirah Arab Menandai Munculnya Budaya Intelektual baru

Kebangkitan Islam pada Abad ke-7 merupakan transformasi intelektual dan budaya masyarakat Arab. Hal ini terutama sebagai akibat dari beberapa peristiwa unik yang terjadi di Arab.

Kebangkitan Islam dan Pemupukan Intelektual Awal

Pemberitaan Islam (dakwah) oleh Nabi Muhammad kepada sesama sukunya; dan konversi mereka yang enggan namun bertahap ke agama baru melalui proses persuasi dan perjuangan politik. Situasi ini memengaruhi perilaku dan pandangan orang-orang Arab, yang di jiwai dengan rasa tujuan yang baru.

Untuk pertama kalinya mereka di hadapkan pada seperangkat gagasan baru. Gagasan baru ini berisi tentang penciptaan, Sang Pencipta Tertinggi, tujuan hidup di Bumi dan di Akhirat, perlunya kode etik / syariat dalam kehidupan pribadi dan publik. Agama baru ini mengatur juga tentang kewajiban untuk beribadah kepada Tuhan. Di mana satu-satunya Tuhan Yang Maha Esa Alam Semesta (Allah); melalui doa-doa ritual secara teratur dan sesi zikir (dzikir, jamak adhkar) atau meditasi. Dan untuk memberi penghormatan kepada seorang pemimpin agama dan politik; yang mana di personifikasikan terhadap Nabi Muhammad dan kepada Penerusnya atau Khalifahnya (Ar., Khalifah, pl. Khulafa’) sebagai pemimpin komunitas baru (ummah).

Konsep dan gagasan Baru dalam Kebangkitan Islam

Semua ini baru bagi orang Arab. Seluruh paket ajaran Islam di sebarkan oleh Nabi dan di terima oleh sesama orang Arab dalam satu generasi (610-632 M). Nabi Muhammad mengajarkan banyak hal kepada orang-orang Arab. Sebelum kedatangan Muhammad, orang-orang Arab tidak memiliki buku dan kitab suci. Al-Qur’an adalah buku Arab pertama dan kitab suci pertama dalam bahasa Arab. Bab dan ayatnya unik dalam gaya dan substansi dalam bahasa Arab paling murni. Orang-orang Arab yang sejak dahulu kala, telah menghafal puisi dan peribahasa, merasa mudah untuk mempelajari sebagian atau seluruh Al-Qur’an untuk sholat ritual. Bagi orang Arab, Al-Qur’an tampaknya merupakan pengganti puisi Arab kuno. Perbedaannya adalah puisi di bacakan di rumah dan di pasar, sedangkan Al-Qur’an di bacakan hanya setelah wudhu dan bersuci.

Kata “al-Qur’an” bacaan. Ini pada dasarnya adalah kitab wahyu dari Tuhan, yang mewujudkan hukum Islam dan kode etik dalam menjalani kehidupan.
Melalui pemahaman Al-Qur’an, orang-orang Arab mulai berpikir dan berperilaku berbeda dari nenek moyang mereka yang musyrik (mushrikun), menjadi lebih seperti Yahudi dan Kristen dalam tauhid mereka. Dengan demikian mereka mulai merenungkan misteri alam semesta dan pentingnya di jiwai dengan rasa persaudaraan. Untuk pertama kalinya hidup mereka di atur oleh sebuah kitab wahyu dan di putarbalikkan olehnya. Al-Qur’an bagi orang Muslim sama dengan Injil bagi orang Kristen dan Taurat bagi orang Yahudi; dan mereka lebih terpengaruh oleh Al-Qur’an daripada orang Kristen dan Yahudi oleh Kitab Suci mereka.

Proses Intelektualisasi masyarakat Arab Menandai Kebangkitan Islam

Ketika pendidikan Islam di perkenalkan kepada murid-muridnya oleh Nabi melalui proses dakwah, seolah-olah semua orang pergi ke sekolah untuk membaca, menulis dan menghafal buku pertama mereka, al-Qur’an.

Sahabat sahabat nabi adalah guru intelektualisasi Islam

kebangkitan islam
Kebangkitan Islam di jazirah Arab

Di antara para guru Al-Qur’an yang terkenal pada awal Islam, adalah ‘Ubadah ibn al-Samit, Mus’ab ibn ‘Umayr, Mu’adz ibn Jabal, ‘Amr ibn Hazm, dan Tamim al-Dari. Guru-guru ini dikirim ke berbagai bagian Arabia dan sekitarnya. Pendidikan Islam di mulai dengan pelajaran Al-Qur’an. Merupakan kewajiban agama dan kewajiban bagi setiap Muslim untuk berdakwah dan mengajarkan kepada sesama Muslim dan kenalan non-Muslim apa yang dia ketahui tentang Al-Qur’an dan Hadits.

Proses pendidikan massal informal dan Islamisasi semacam itu di mulai di Jazirah Arab; sampai tahun-tahun kehidupan terakhir Nabi dan prosesnya di teruskan di bawah penerusnya. Seorang Muslim awal ini juga menjadi akrab dengan gaya hidup Nabi (Sunnah). Segala sesuatu yang Nabi katakan, lakukan, setujui, diam dan anjuran untuk orang lain lakukan; menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam dan Sunnah (adat, atau cara hidup Islam) bagi komunitas Muslim.

Al-Qur’an menggambarkan Muhammad sebagai Nabi yang buta huruf/buta huruf (al-Nabi al-Ummi). Dimana pada saat itu dia menerima wahyu pertama dari Allah melalui malaikat Jibril (Jibril) pada usia 40 tahun. Pada saat itu ketika dia di perintahkan untuk ‘Membaca dengan Nama Tuhan yang menciptakan, menciptakan manusia dari gumpalan darah; Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah, Yang mengajar dengan kalam; (Dia) mengajarkan apa yang tidak di ketahui manusia’ .

Atas perintah Malaikat Jibril, Muhammad menjawab bahwa dia tidak bisa membaca, indikasi yang jelas dari buta hurufnya; pengetahuannya tentang agama Yahudi dan Kristen di dasarkan pada apa yang Jibril komunikasikan kepadanya secara langsung. Namun, menurut otoritas Muhammad, setelah dia menerima perintah ilahi untuk ‘membaca’ (Iqra); ‘dia bisa – dan memang – belajar membaca dan menulis, setidaknya harus sedikit demi sedikit’. Hal ini menjelaskan bagaimana surat-surat yang dia di di ktekan kepada Muhammad telah di “tandatangani” olehNya. Dan selanjutnya, pada akhir hayatnya Muhammad sudah tidak lagi buta huruf.

Kumpulan kata-kata dan pemikiran Muhammad dan persetujuan diam-diamnya di kenal sebagai hadits (jamak ahadith). Hadits ini kemudian menjadi salah satu sumber dasar hukum Islam.

Baca Juga:

Peradaban Arab Pra Islam

Inspirasi Peradaban Yunani Kuno Terhadap Dunia Arab

Latar Belakang Munculnya Peradaban Arab Sebelum Masuknya Islam

Bangunan kuno Mada’in Salih di Arab dan bendungan Marib di Yaman adalah pengingat tentang bagaimana pengaruh teknologi kuno mencapai peradaban Arab. Pada abad ke-7, orang-orang Arab sudah memiliki kalender dengan dua belas bulan bernama Bahasa Arab (mis. Muharram, Safar, Rabi ‘al-Awwal, Rabi’ al-Ula, Jumada al-Akhir, Rajab, Sha ‘ Ban, Ramadhan, Shawwal, Dhu’l-qa’dah, dan Dhu’l-Hijjah). Ini mungkin berasal dari mesopotamia kuno.

Peradaban Yunani Kuno dan Kontribusi Para Ilmuan Masa Lampau

Peradaban Yunani kuno , yang berkembang selama 600 SM-529 M, dalam arti kronologis, merupakan penerus peradaban Timur Tengah Mesopotamia dan Mesir, tetapi dampaknya terhadap orang-orang Arab tidak terjadi sampai dua abad setelah kedatangan Islam.

Sebagaimana diakui oleh sejarawan sains, ”Meskipun sains di masa peradaban Yunani kuno mungkin merupakan kelanjutan dari gagasan dan praktik yang dikembangkan oleh orang Mesir dan Babilonia, orang Yunani adalah orang pertama yang mencari prinsip-prinsip umum di luar pengamatan. Ilmu pengetahuan sebelum Yunani, seperti yang dipraktikkan di Babel dan Mesir, sebagian besar terdiri dari kumpulan pengamatan dan resep untuk aplikasi praktis.

Selain itu mereka juga memperkenalkan metode ilmiah berdasarkan akal dan pengamatan.

Sains di definisikan sebagai ‘tubuh pemikiran yang terorganisir’ dan interpretasi alam semesta di katakan berasal dari sekitar 600 SM dengan sekolah filsuf Yunani Ionia, dan berlanjut hingga awal abad ke-6 M. Menurut salah satu sumber, apa yang di capai sebelum orang Yunani di perlakukan hanya sebagai kemajuan teknologi daripada ilmu teoretis. Dalam rangkuman singkat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani berikut ini, filsafat akan di kesampingkan.

Peran filosof dalam peradaban Yunani kuno

Para Filsuf Yunani mempelajari ilmu pengetahuan karena rasa ingin tahu, sebagai upaya untuk mengetahui dan memahami sesuatu. Mereka tidak terinspirasi oleh agama atau mitologi, juga tidak tertarik pada penerapan sains. Selain itu mereka juga memperkenalkan metode ilmiah berdasarkan akal dan pengamatan. Mereka membangun institusi, seperti Akademi, Lyceum dan Museum. Dengan penutupan Akademi dan Lyceum pada 529 M, di ikuti oleh Museum, zaman Yunani dalam sejarah sains berakhir. Namun, pengaruh mereka menyebar jauh dan luas setidaknya selama satu milenium.

Kontribusi Para Ilmuan terhadap peradaban Yunani kuno

Ilmuwan Yunani paling awal adalah Thales, Anaximander dan Anaximenes. Thales (ca 600 SM) percaya bahwa air adalah esensi dari fenomena alam. Baginya, materi datang dalam tiga bentuk: kabut, air, dan tanah. Dia juga berpikir bahwa bintang-bintang terbuat dari air. Muridnya Anaximander, (ca 545 SM) di yakini telah menulis buku paling awal tentang sains, yang mengklaim bahwa kehidupan berasal dari laut. Anaximenes (ca 500 SM), seorang murid dari yang pertama, berpikir bahwa udara adalah inti dari alam semesta, dan bahwa pelangi adalah fenomena alam dan bukan tanda ilahi.

Aristoteles

peradapan yunani kuno
Aristoteles

Umumnya di anggap sebagai bapak ilmu kehidupan. Dia mempelajari 540 tumbuhan dan mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan. Dia juga menulis tentang embriologi. percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

Ilmuan ini juga berpendapat bahwa gerak di ciptakan oleh suatu benda yang berusaha mencapai tempat alamiahnya.

Hippocrates

peradapan yunani kuno
Hippocrates

Kontribusi Yunani terbesar untuk kedokteran di buat oleh Hippocrates dari Cos, seorang penulis banyak buku, yang Sumpah Hipokratesnya masih di gunakan sebagai kode etik oleh profesi medis. Dia membebaskan kedokteran dari takhayul dan agama. Pengobatan Yunani juga menyebar ke Roma, di mana dokter Galen, melalui pengajaran dan tulisan-tulisannya yang produktif mempopulerkannya.

Empedocles

peradapan yunani kuno
Empedocles

Ilmuwan Yunani Empedocles merumuskan gagasan tentang unsur-unsur (udara, air, tanah, dan api), yang di adopsi oleh Plato. Bagi Plato, geometri adalah metode yang paling cocok untuk berpikir tentang alam.

Euclid

peradapan yunani kuno
Euclid

Dari Alexandria ada Euclid, penulis Elements, adalah ahli geometri Yunani yang paling berpengaruh. Orang-orang Yunani memberikan kontribusi penting untuk matematika, yang merupakan ilmu yang sepenuhnya di dasarkan pada alasan, tanpa perlu observasi atau eksperimen.

Pythagoras (abad ke-5 SM)

peradapan yunani kuno
Pythagoras

Abad ke-5 SM) Pythagoras, Dia menganggap matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan yang paling penting.

Diophantus

peradapan yunani kuno
Diophantus

Dia adalah Diophantus di anggap oleh beberapa orang sebagai pendiri ‘aljabar’ Yunani (meskipun istilah itu sendiri berasal dari bahasa Arab).

Archimedes

Archimedes
Archimedes

Penemu Hukum hidrostatika “Archimedes” Dia juga menemukan Archimedian Screw, alat yang di rancang untuk menaikkan air untuk irigasi.

Hero, Insinyur Alexandrian

 Hero
Hero

Insinyur Alexandrian Hero di kreditkan dengan penemuan serangkaian automata. Orang Yunani juga membangun terowongan pembawa air melalui gunung.

Ctesibius

 Ctesibius
Ctesibius

Dia Ctesibius di anggap sebagai pendiri sekolah teknik Aleksandria.

Philon

 Philon
Philon

Dia adalah Philon yang di kreditkan dengan beberapa pencapaian teknis, termasuk pompa gaya, dan jam air yang di gerakkan secara mekanis.

Ptolemy

Ptolemy
Ptolemy

Seorang astronom Yunani besar dari Alexandria, Ptolemy, menulis Almagest, yang menggambarkan gerakan planet dan menempatkan Bumi sebagai pusat Alam Semesta, dengan Matahari dan Bulan berputar di sekitarnya.

Aristarchus

 Aristarchus
Aristarchus

Pada 270 SM, Aristarchus dari Samos menantang ide geosentris , dengan menyatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya. Dia juga menekankan bahwa semua planet lain berputar mengelilingi Matahari.

Ilmu dari peradaban Yunani kuno mencapai Asia Barat dan di tempat lain setelah penaklukan Alexander.

Baca dan Tonton juga:

Sejarah Dinasti Islam di Mesir

Dinasti Islam di Mesir dari Masa ke masa

Berbicara tentang dinasti Islam di Mesir, maka akan membawa kita menengok untuk Peradaban Mesir (ca 3000 SM sampai 300 M). Mesir berkembang setelah Mesopotamia, hal ini di catat sebagai wilayah tempat lahirnya sistem kalender matahari 365 hari (ca 2773 SM).

Pada 1500 SM, ia menghasilkan gnomon, indikator berbentuk L yang di temukan di jam matahari dan jam air (ca 1450 SM).

Pengobatan Mesir, yang di praktikkan oleh para imam pada milenium ke-2 SM, merupakan yang paling canggih di zaman kuno, dan beberapa ukiran sekitar 2500 SM menggambarkan operasi bedah yang sedang berlangsung. Imhotep, seorang Mesir (w. ca 2950 SM), menjadi arsitek Memphis.

Bentuk awal hieroglif (yaitu sistem penulisan), penggunaan papirus sebagai bahan tulisan, dan sistem angka mulai di gunakan sekitar 3000 SM, seperti halnya penggunaan juru tulis oleh Firaun kuno, proses pembalseman dan mumifikasi, dan seni Piramida.

Piramida Giza di antara 2700 dan 2200 SM. Lukisan dan relief di dinding istana kuno dan di dalam Piramida, perabotan elegan dan penggunaan perunggu untuk peralatan juga di antara pencapaian orang Mesir kuno, Piramida menjadi titik tertinggi.

Banyak dari benda seni ini di simpan di Mesir dan dalam koleksi di seluruh dunia. Pengetahuan tentang peradaban kuno ini di sebarkan melalui kisah-kisah yang di ceritakan oleh orang orang bijak Arab.

Perjalanan panjang Dinasti Islam di Mesir

Sebagai sebuah negeri, Mesir memiliki sejarah panjang. Mulai dari masa Fir’aun, khalifah, hingga masa republik. Sejak zaman kuno (4.000 SM), Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi.

Islam masuk ke Mesir pada abad 7 ketika Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan
Amr bin As membawa pasukan tentara Islam untuk mendudukinya. Setelah menduduki
Mesir, Amr bin As menjadi amir (gubernur) di sana (632-660) dan menjadikan
Fustat (dekat Kairo) sebagai pusat pemerintahan.

Pada masa-masa selanjutnya, Mesir berada di bawah pemerintahan dinasti seperti
Umayah, Abbasiyah, Tulun (868-905), Ikhsyid (935-969), selanjutnya Fatimiah (909-1171),
Ayubiyah (1174-1250) yang di tandai dengan Perang Salib (1096-1273), dan Mamluk
(1250-1517). Selanjutnya masa sesudahnya, Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki
Ottoman. Dalam rentang penguasaan pemerintahan dinasti itu, masa jaya Islam di
Mesir terjadi pada masa Dinasti Fatimiah ketika ibu kota pindah ke Kairo dan
Universitas Al Azhar di dirikan.

Munculnya Dinasti Fatimiah Sebagai awal berdirinya peradaban baru Masir

Di bawah Dinasti Fatimiah, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan.
Dinasti ini menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Wilayahnya mencakup
Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan
Hijaz. Kairo pun tumbuh sebagai pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah dan Samudera Hindia. Sementara ibu kota Mesir sebelumnya, Fustat, menjadi bagian dari wilayah administratifnya.

Mesir sebagai pusat pendidikan dan aktifitas intelektual

Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah
baru. Bahkan, seperti tertulis dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, pada masa
pemerintahan Abu Mansur Nizar al Aziz (975-996), Kairo mampu bersaing dengan dua
ibu kota Dinasti Islam lainnya, yakni Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan
Cordoba sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol

Pembangunan dan seni arsitektur berkembang pesat

Dinasti Islam di Mesir

Seperti halnya Dinasti Islam lainnya seperti dinasti Umayah yang mampu membangun istana,
Dinasti Fatimiah pun mampu mendirikannya. Tak hanya istana, ketiga dinasti yang
berada di tiga benua berbeda itu pun ‘berlomba’ membangun masjid. Dinasti
Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki Masjid Samarra, Dinasti Umayyah membangun
Masjid Cordoba, dan Fatimiah memiliki Masjid Al Azhar.

Dinasti Islam di Mesir dengan Sistem Demokrasi dan Pemerintahan yang tertata rapi

Di bidang administrasi negara, Fatimiah pun menorehkan sesuatu yang patut di tiru
oleh para penguasa di era berikutnya, termasuk di era modern saat ini. Dalam
merekrut pegawai, misalnya, pemerintahan Fatimiah mengutamakan kecakapan
dibandingkan pertalian keluarga. Artinya mereka menjauhi praktik yang di sebut
masyarakat modern sebagai nepotisme. Semangat toleransi pun di kembangkan.
Penganut Sunni dan Syiah memiliki peluang yang sama untuk menduduki suatu
jabatan.

Kairo sebagai pusat pemerintahan

Pada akhir masa kejayaan Fatimiah, Kairo hampir saja jatuh di bawah penguasaan
tentara Perang Salib. Beruntung, panglima perang Salahudin Al Ayubi berhasil
menghalaunya. Sejak itu, Salahudin mendeklarasikan kekuasaannya di bawah bendera
Dinasti Ayubiyah, yang hanya bertahan 75 tahun. Kairo kemudian diambil alih
Dinasti Mamluk sebagai dinasti islam di Mesir terakhir. Sekitar tiga abad lamanya, dinasti Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat
pemerintahan.

Baca dan tonton juga:

Sejarah perkembangan pengetahuan Islam

Mesopotamia dan peradaban Islam

Sekitar tiga abad lamanya, Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan.

Pengetahuan Islam dan Sejarah Perkembangannya

Artikel tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam ini di tulis oleh Dr Muhammad Abdul Jabbar. Tulisan ini mempunyai fokus khusus pada interaksinya dengan tradisi intelektual dunia kuno sebelumnya serta survei tentang awal aktivitas ilmiah dalam bahasa Arab. Pada bagian pertama ini, ia menggambarkan secara rinci dampak prinsip Islam dalam membentuk kontur aktivitas ilmiah awal dalam peradaban Muslim. Selanjutnya, pada bagian kedua, penulis mensurvei beberapa kontribusi penting para ilmuwan Islam di bidang astronomi, matematika, kimia, dan kedokteran.

Ilmu Pengetahuan Kuno dan Arab dan Hubungannya dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam

Pada awal abad ke-7 M, sangat sedikit orang Arab yang bisa membaca, menulis, atau berhitung. Namun, sekelompok pedagang elit yang melakukan perjalanan dari kota-kota seperti Mekkah, Yathrib, Khaybar dan dari Yaman ke pusat peradaban kuno, termasuk Suriah, Mesopotamia dan Mesir, terbuka terhadap pengaruh luar. Segelintir pedagang yang akrab dengan membaca dan menulis dari satu jenis atau lainnya. Di antara mereka adalah anggota suku Quraisy dan merekalah yang membawa pengaruh asing ke pusat-pusat perdagangan Arab. Namun demikian, sebagian besar penduduk Arab adalah penggembala yang sering bertengkar di antara mereka sendiri. Hanya selama musim haji ke Mekah pertempuran di tinggalkan dengan persetujuan bersama.

Secara keseluruhan lingkungan Arab tidak mendorong tumbuhnya nilai-nilai beradab. Sulit untuk melihat bagaimana orang primitif seperti itu dapat muncul dari keterbelakangan berabad-abad ke tingkat budaya.

Perjalanan orang-orang Arab dari kegelapan menuju cahaya adalah salah satu teka-teki sejarah dan hanya sedikit sejarawan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut secara memadai. Dengan memanfaatkan kekuatan fisik dan spiritual laten mereka, orang-orang Arab entah bagaimana merekonstruksi kehidupan mereka sendiri. Di mulai dengan tabula rasa, mereka mencapai kemajuan yang menakjubkan. Terutama dalam kehidupan sosial, politik dan intelektual mereka dalam waktu yang sangat singkat.

Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini? Luar biasa meskipun bagi mahasiswa sejarah yang belum tahu apa-apa. Orang-orang Arab ini tidak hanya mengubah cara berpikir mereka tetapi juga pandangan mereka tentang dunia dan peran mereka di dalamnya. Hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk menyerap ajaran seorang visioner seperti Nabi Muhammad ibn Abdullah daripada mereka menjadi kekuatan penakluk yang kuat yang telah memenangkan sebuah kerajaan dalam waktu lima puluh tahun setelah kematian mentor mereka. Bagaimana orang-orang seperti itu dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan apa pun, baik itu alam, fisik, atau sosial?

Sejarah ilmu pengetahuan Islam
Manuskrip Al-Qur’an

Pandangan Sejahrawan

Sejarawan harus menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan lain yang mungkin muncul darinya. Dari sudut pandang sejarah, akan tampak tidak masuk akal untuk membicarakan asal usul segala bentuk ilmu pengetahuan Islam dalam satu atau dua abad setelah kebangkitan Islam. Bagaimana dan di mana kita memulai diskusi semacam itu?. Untuk menemukan jawaban atas kebangkitan fenomenal Islam dan ilmu-ilmu Islam, kita melihat peran Islam di Eropa, ketika buku-buku Arab tentang sains dan filsafat di terjemahkan ke dalam bahasa Latin di Kerajaan Arab Spanyol, Sisilia dan Italia selatan dan efeknya. perkembangan ini pada masyarakat Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi.

Jika kita melanjutkan dari pendahuluan ini ke diskusi yang tepat tentang kebangkitan ilmu-ilmu Islam. Kita harus mengambil pandangan yang lebih luas tentang sejarah dunia. Menurut pendapat saya, asal-usul ilmu-ilmu Islam dapat di telusuri kembali sebagian ke warisan ilmiah Sumeria, Babilonia, Mesir, Yunani, Persia dan India. Sebagian dari inspirasi yang berasal dari Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad ( hadits). Dan juga sebagian kepada kejeniusan intelektual dan kreatif para ilmuwan, pemikir, dan filosof Muslim selama lima ratus tahun sejarah Islam (abad ke-7-11 M). Tampaknya kita membutuhkan penjelasan yang memuaskan untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan akar intelektual peradaban Islam.

Dalam mencoba mendekati subjek seperti itu, kita memasuki area yang berpotensi kontroversial dan area yang membutuhkan banyak penelitian dan ketekunan. Tiga faktor penting yang perlu di analisa: (1) asal-usul ilmu pengetahuan dan pengaruhnya terhadap bangsa Arab. (2) inspirasi yang di peroleh umat Islam dari ajaran Al-Qur’an dan Hadits, (3) pencapaian para ulama. Ilmuwan dan pemikir muslim di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kita dapat merujuk ke tiga sumber penting ilmu pengetahuan Islam ini satu demi satu. Dengan demikian, seseorang tidak dapat mengabaikan relevansi ilmu-ilmu Islam dengan Eropa abad pertengahan [1].

Baca dan Tonton Juga:

Perkembangan Islam di Eropa

Dunia Paralel Menurut Al Quran