Advertisements
Bagikan:

Peranan Islam dalam teknologi dan Ilmu Pengetahuan. Kita semua tahu bahwa Islam adalah agama yang universal. Tidak ada agama di dunia ini selain Islam yang dapat membawa misi universal sampai ke penjuru bumi. Hingga dimanapun kita menginjakan kaki, maka kita dapat menemukan Islam disana. Bahkan para tokoh-tokoh barat pun mengakui bahwa jika tanpa Islam maka dunia ini akan sangat miskin budaya dan karya intelektual.

Graham Fuller Memaparkan , seorang mantan CIA dalam bukunya A World Without Islam, “Kalau bukan karena Islam, dunia ini akan miskin peradaban, intelektual dan kebudayaan…” Bahkan bukan hanya itu, pengakuan lain datang dari seorang George Sarton dalam karyanya The History of Science dia menulis, “Umat Islam merupakan bangsa yang cerdas, jenius di wilayah timur (Middle East) pada abad pertengahan dan memberikan sumbangan besar bagi umat manusia”.

Islam Agama Peradapan

Sebagai agama peradaban, Islam masih dapat terus bertahan dan terus berkembang hingga saat ini. Ketika zaman era postmodernisme, Islam menjadi satu-satunya agama yang tumbuh dengan pesat padahal saat itu sekularisme sedang menjangkit daerah Eropa.

Berkaitan dengan sekularisasi yang menjangkit Kristen di Eropa kala itu, karena para pendeta menjauhkan segala yang bertentangan dengan gereja. Gereja melakukan penelitian sedemikian rupa terhadap Ilmu pengetahuan, dan gereja hanya mengakui ilmu pengetahuan yang sesuai dengan konsep kegerejaan. Pendeta mengatakan bahwa itu semua adalah suara Tuhan dan umat kristen harus mengikuti dan melaksanakannya. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang eropa mengalami trauma terhadap agama.

Banyak orang barat mengatakan bahwa agama adalah candu dan agama harus terpisah dari ilmu pengetahuan. Mereka menyatakan bahwa “Tuhan telah terbunuh”, Tuhan telah mati”, sehingga manusia seakan-akan luput dari konsep kebenaranya. Padahal, konsep kebenaran sejati adalah wahyu yang turun kepada para rasul dan tersempurnakan dengan wahyu terakhir berupa Al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad Saw. Orang-orang barat lebih memilih konsep humanisme dengan mengedepankan suara manusia sebagai kebenaran, sekalipun itu adalah sebuah keburukan.

Lalu bagaimana dengan Islam? Bagaimanakah Islam memandang itu semua? Benarkah Islam memisahkan aspek ibadah dan ilmu pengetahuan? Bagaimanakah peranan Al-Quran sebagai mukjizat Nabi Muhammad Saw? Sebagai wahyu yang merupakan sumber kebenaran karena merupakan Kalam Tuhan, bagaimanakah pengaruhnya terhadapa ilmu pengetahuan?

Arti secara bahasa, mukjizat yakni melemahkan. Artinya dia yang melemahkan sesuatu di sekitarnya sehingga tidak ada yang dapat menandingi. Secara istilah, mukjizat merupakan kelebihan yang Allah berikan kepada para Rasul-Nya.

Mukjizat juga sebagai identitas para Rasul. Sebagai identitas, maka berbeda pula mukjizat antara para Rasul sesuai dengan tantangan umat kala itu. Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir memiliki Al-Quran sebagai mukjizat beliau. Bahkan menjadi mukjizat terbesarnya di samping Isra Mi’raj dan mukjizat lainnya.

Kemukjizatan di sini bersifat ma’nawi (abstrak), bukan sebagai mukjizat yang bersifat madiy (fisik) seperti menyembuhkan kebutaan dan penyakit lepra, mengubah tongkat menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan lain-lain yang lekas hilang seketika.

Islam Dan Kemukzizatan Al Quran Tentang ilmu Pengetahuan

Bangsa Arab yang merupakan bangsa tempat turunnya Al-Quran sudah mengetahui betul luar biasanya Al-Quran. Di lihat dari segi kebahasaanya layaknya syair yang tidak tertandingi. Bahkan seorang pemuda Arab masa itu yang di anggap warga setempat sangat ahli dalam bersyair, tidak dapat menandingi keindahan bahasa Al-Quran. Padahal Al-Quran di sampaikan oleh seorang manusia yang ummiy (tidak bisa menulis dan membaca). Inilah yang menjadi bukti bahwa Al-Quran tidak terucap begitu saja dari kata-kata manusia, melainkan sebuah Kalam Illahi (wahyu). Namun, banyak pula Bangsa Arab yang mengingkari Al-Quran karena faktor gengsi mereka. Untuk menutupinya, mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah sihir.

Al-Quran sebagai wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Saw guna menjadi pedoman bagi umat manusia. Di samping keindahannya dalam segi bahasa, ada beberapa hal yang juga di ceritakan dalam Al-Quran, di antaranya bahwa Al-Quran menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi pada umat terdahulu agar kita dapat mengambil pelajaran darinya. dimana di dalamnya mengkisahkan hal hal yang akan berlangsung di masa depan yang tidak akan satupun umat manusia yang mengetahuinya. Kita ini merupakan wahyu yang mengajarkan kepada kita tentang ilmu pengetahuan yang baru terbukti di era modern ini.

Semua orang dengan akal sehatnya, pasti akan berpikir bahwa ini bukanlah kata-kata seorang manusia. Ini adalah wahyu yang langsung turun atas kehendak-Nya.

Hubungan Antara Islam, Al-Quran Dan Ilmu Pengetahuan

Dewasa ini, Islam seakan-akan di pojokan sebagai agama yang kaku terbelakang dan mempunyai landasan pemikiran yang konservatif. Islam di anggap tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan zamat saat ini. Benarkah anggapan demikian? Jawabannya adalah salah. Islam bukan merupakan agama yang hanya mengedapankan aspek ritual dan spiritual. Bukan terfokus terhadap ibadah seorang hamba saja.

Menurut Hasan Al-Banna dalam Kitab Majumu’atu Rasail mengatakan, “Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia juga adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.” Oleh karenanya, Islam tidak terpisahkan dalam aspek keduniaan pula. Sekularisasi saat ini telah mambawa kita perlahan seakan-akan tidak boleh membawa identitas kita sebagai umat Islam.

Kewajiban Umat Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

Islam menuntut umatnya supaya tidak hanya kaya akan pengetahuan agama tapi juga kaya akan pengetahuan dunia. Seorang cendekiawan muslim, Muhammad Abduh (1849–1905 M) mengatakan, “Jika semasa hidup Rasulullah Saw menjelaskan ilmu pengetahuan alam dan astronomi, maka aktivitas penginderaan dan penalaran manusia niscaya akan berakhir sampai di situ, dan manusia akan di manjakan dengan itu semua. Akan tetapi, Rasulullah Saw justru menyarankan agar menggunakan indera dan kecerdasan guna mengkaji segala hal yang bisa meningkatkan kesejahteraan, memperluas pengetahuan, dan memperkaya jiwa. Dengan demikian, pintu untuk menyingkapi ilmu pengetahuan semacam itu adalah kecerdasan dan eksperimen, bukan hadits dan ilmu-ilmu agama.”

Tak heran bila membaca sejarah, banyak sekali di temukan karya-karya saintis muslim yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sains dan teknologi. Mereka mempelajari itu semua karena memperdalam kajian tentang Al-Quran yang mengandung ilmu-ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, sebagai umat Islam sudah sepatutnya kita untuk mempelajari Al-Quran dan juga mentadaburinya. Al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah Swt yang Maha Benar, sudah tentu kandungannya pun pasti benar.

Berbeda dengan pandangan orang sekuler barat yang sudah tidak memiliki standarisasi kebenaran. Mereka mengatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang relatif. Kebenaran hanya bisa di nilai oleh pembuktian secara rasional dan empiris. Suatu kejelekan dan keburukan dapat di terima bila di dapati dengan suara mayoritas. Ini sudah menyalahi dari konsep kebenaran itu sendiri. Sehingga bagi orang muslim, mempelajari segala ilmu pengetahuan dari Al-Quran berarti seseorang telah belajar akan suatu kebenaran.

Al-Quran memerintahkan kita untuk beriman dan berpikir. Semakin seseorang berpikir dan bertambah keilmuannya, sudah seharusnya keimanannya pun akan bertambah bukan sebaliknya menjauhi Tuhannya. Jika iman seseorang sudah kuat, maka amal perbuatannya pun akan mulia dan baik. Oleh karenanya dalam Islam ada trilogi yang tidak dapat di pisahkan yakni iman, ilmu, dan amal.

Peranan Islam dan Al Quran Dalam Membawa Dunia Menuju Peradaban Gemilang

Banyak orang yang mengatakan bahwa membangun peradaban artinya membangun teknologi yang canggih. Memang kerap kali peradaban di identikan dengan sains dan teknologi yang berkembang. Siapa yang menguasai sains dan teknologi, maka dia yang menguasai dunia.

Hal yang memang tidak dapat di nafikan sebagai umat muslim adalah peradaban barat memang peradaban yang sangat maju untuk saat ini. Berbagai macam teknologi bermuculan dari sana. Akan tetapi umat muslim jangan mengambil semua dari barat seakan-akan peradaban barat merupakan standarisasi yang menjadi suatu “keharusan”. Umat muslim harus dapat mengislamisasi peradaban barat dengan teknik ‘adopsi’ dan ‘adaptasi’. Tidak memukul rata semua salah dan tidak menelan mentah semua.

Melihat kondisi umat muslim saat ini, memanglah terbilang miris. Umat muslim terlalu jauh dari agamanya sendiri. Hegemoni sekuler liberal barat terus mengikis perlahan-lahan aqidah umat muslim. Seorang misionaris legendaris Henry Martin, menyatakan, “Saya datang menemui umat islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta.” Orang-orang barat mengetahui bahwa dengan perang mereka akan kalah dengan semangat jihad orang-orang muslim yang tak kenal mati tetapi mencari mati. Inilah yang harus kita waspadai dari peradaban barat.

Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Sebagai umat muslim, konsep sains adalah hal-hal yang berkaitan dengan segala ilmu. Baik sains alam maupun sosial. Sedangkan teknologi adalah alat yang mempermudah umat manusia guna lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sains bukanlah teknologi. Tetapi teknologi adalah implikasi dari sains.

Sains bukan hanya sebatas pada Alam dan teknologi, namun sains sosial juga telah di ajarkan dan tertera dalam Al-Quran. Umat muslim sudah tau bagaimana mengelola politik, sosial, ekonomi dan yang lainnya. Masalah-masalah yang menimpa umat sekarang ini terjadi karena umat Islam mengalami krisis ilmu pengetahuan. Lebih tepatnya malas membaca, mengkaji, dan menulis.

Sudah seharusnya dengan modal Al-Quran sebagai sumber kebenaran dan konsep wahyu Al-Quran yang di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasan-Nya berupa Ilmu pengetahuan, haruslah bisa menjadi modal utama dalam umat islam membangun peradabannya kembali.

Epilog

Tentunya harapan kita semua adalah umat Islam mampu bangkit dengan mengedapankan budaya ilmu yang berlandaskan wahyu (Al-Quran). Membaca, mengkaji, dan menulis haruslah menjadi kebiasaan dan ditanamkan kepada generasi-generasi muda sebagai tonggak masa depan umat. Semoga kita bisa menjadi umat terbaik yang mampu mengemban amanat yang telah Allah pikulkan di pundak kita. Aamiin.

Baca juga : Sejarah dan Perkembangan Islam di Eropa , Dunia Paralel Menurut Islam

Tonton :


Bagikan:

By admin

Terima kasih telah membaca. Kami berharap anda memberikan saran, masukan dan komentar.