Advertisements
Bagikan:

Berbicara tentang dinasti Islam di Mesir, maka akan membawa kita menengok untuk Peradaban Mesir (ca 3000 SM sampai 300 M). Mesir berkembang setelah Mesopotamia, hal ini di catat sebagai wilayah tempat lahirnya sistem kalender matahari 365 hari (ca 2773 SM).

Pada 1500 SM, ia menghasilkan gnomon, indikator berbentuk L yang di temukan di jam matahari dan jam air (ca 1450 SM).

Pengobatan Mesir, yang di praktikkan oleh para imam pada milenium ke-2 SM, merupakan yang paling canggih di zaman kuno, dan beberapa ukiran sekitar 2500 SM menggambarkan operasi bedah yang sedang berlangsung. Imhotep, seorang Mesir (w. ca 2950 SM), menjadi arsitek Memphis.

Bentuk awal hieroglif (yaitu sistem penulisan), penggunaan papirus sebagai bahan tulisan, dan sistem angka mulai di gunakan sekitar 3000 SM, seperti halnya penggunaan juru tulis oleh Firaun kuno, proses pembalseman dan mumifikasi, dan seni Piramida.

Piramida Giza di antara 2700 dan 2200 SM. Lukisan dan relief di dinding istana kuno dan di dalam Piramida, perabotan elegan dan penggunaan perunggu untuk peralatan juga di antara pencapaian orang Mesir kuno, Piramida menjadi titik tertinggi.

Banyak dari benda seni ini di simpan di Mesir dan dalam koleksi di seluruh dunia. Pengetahuan tentang peradaban kuno ini di sebarkan melalui kisah-kisah yang di ceritakan oleh orang orang bijak Arab.

Perjalanan panjang Dinasti Islam di Mesir

Sebagai sebuah negeri, Mesir memiliki sejarah panjang. Mulai dari masa Fir’aun, khalifah, hingga masa republik. Sejak zaman kuno (4.000 SM), Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi.

Islam masuk ke Mesir pada abad 7 ketika Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan
Amr bin As membawa pasukan tentara Islam untuk mendudukinya. Setelah menduduki
Mesir, Amr bin As menjadi amir (gubernur) di sana (632-660) dan menjadikan
Fustat (dekat Kairo) sebagai pusat pemerintahan.

Pada masa-masa selanjutnya, Mesir berada di bawah pemerintahan dinasti seperti
Umayah, Abbasiyah, Tulun (868-905), Ikhsyid (935-969), selanjutnya Fatimiah (909-1171),
Ayubiyah (1174-1250) yang di tandai dengan Perang Salib (1096-1273), dan Mamluk
(1250-1517). Selanjutnya masa sesudahnya, Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki
Ottoman. Dalam rentang penguasaan pemerintahan dinasti itu, masa jaya Islam di
Mesir terjadi pada masa Dinasti Fatimiah ketika ibu kota pindah ke Kairo dan
Universitas Al Azhar di dirikan.

Munculnya Dinasti Fatimiah Sebagai awal berdirinya peradaban baru Masir

Di bawah Dinasti Fatimiah, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan.
Dinasti ini menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Wilayahnya mencakup
Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan
Hijaz. Kairo pun tumbuh sebagai pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah dan Samudera Hindia. Sementara ibu kota Mesir sebelumnya, Fustat, menjadi bagian dari wilayah administratifnya.

Mesir sebagai pusat pendidikan dan aktifitas intelektual

Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah
baru. Bahkan, seperti tertulis dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, pada masa
pemerintahan Abu Mansur Nizar al Aziz (975-996), Kairo mampu bersaing dengan dua
ibu kota Dinasti Islam lainnya, yakni Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan
Cordoba sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol

Pembangunan dan seni arsitektur berkembang pesat

Dinasti Islam di Mesir

Seperti halnya Dinasti Islam lainnya seperti dinasti Umayah yang mampu membangun istana,
Dinasti Fatimiah pun mampu mendirikannya. Tak hanya istana, ketiga dinasti yang
berada di tiga benua berbeda itu pun ‘berlomba’ membangun masjid. Dinasti
Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki Masjid Samarra, Dinasti Umayyah membangun
Masjid Cordoba, dan Fatimiah memiliki Masjid Al Azhar.

Dinasti Islam di Mesir dengan Sistem Demokrasi dan Pemerintahan yang tertata rapi

Di bidang administrasi negara, Fatimiah pun menorehkan sesuatu yang patut di tiru
oleh para penguasa di era berikutnya, termasuk di era modern saat ini. Dalam
merekrut pegawai, misalnya, pemerintahan Fatimiah mengutamakan kecakapan
dibandingkan pertalian keluarga. Artinya mereka menjauhi praktik yang di sebut
masyarakat modern sebagai nepotisme. Semangat toleransi pun di kembangkan.
Penganut Sunni dan Syiah memiliki peluang yang sama untuk menduduki suatu
jabatan.

Kairo sebagai pusat pemerintahan

Pada akhir masa kejayaan Fatimiah, Kairo hampir saja jatuh di bawah penguasaan
tentara Perang Salib. Beruntung, panglima perang Salahudin Al Ayubi berhasil
menghalaunya. Sejak itu, Salahudin mendeklarasikan kekuasaannya di bawah bendera
Dinasti Ayubiyah, yang hanya bertahan 75 tahun. Kairo kemudian diambil alih
Dinasti Mamluk sebagai dinasti islam di Mesir terakhir. Sekitar tiga abad lamanya, dinasti Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat
pemerintahan.

Baca dan tonton juga:

Sejarah perkembangan pengetahuan Islam

Mesopotamia dan peradaban Islam

Sekitar tiga abad lamanya, Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan.


Bagikan:

By admin

Terima kasih telah membaca. Kami berharap anda memberikan saran, masukan dan komentar.