Skip to content

Latar Belakang Munculnya Peradaban Arab Sebelum Masuknya Islam

peradaban arab

Berbagai pengaruh di Peradaban Arab Pra-Islam.

Bangunan kuno Mada’in Salih di Arab dan bendungan Marib di Yaman adalah pengingat tentang bagaimana pengaruh teknologi kuno mencapai peradaban Arab. Pada abad ke-7, orang-orang Arab sudah memiliki kalender dengan dua belas bulan bernama Bahasa Arab (mis. Muharram, Safar, Rabi ‘al-Awwal, Rabi’ al-Ula, Jumada al-Akhir, Rajab, Sha ‘ Ban, Ramadhan, Shawwal, Dhu’l-qa’dah, dan Dhu’l-Hijjah). Ini mungkin berasal dari mesopotamia kuno.

Orang-orang Arab tidak memiliki sekolah atau lembaga pendidikan di era pra-Islam. Akan tetapi ini ada di Alexandria, Antioch, Edessa dan Harran di Mesopotamia dan Persia. Di mana beberapa dari mereka di pekerjakan di sekolah kedokteran Jundishapur (di Persia Barat Tenggara) selama abad ke-6 dan ke-7. Di Suriah, Bizantium (Romawi Timur) dan pengaruh Persia berbaur.

Pengaruh ilmu pengetahuan Yunani terhadap Peradaban Arab sebelum Masuknya Islam

Dari sini, ilmu pengetahuan Yunani menyebar ke timur dan barat. Di antara orang-orang Suriah adalah dua sekte Kristen. Orang-orang Nestoria mengajarkan ilmu pengetahuan dan filosofi Yunani. Di sekolah-sekolah mereka dan menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Syria. Selanjunya ini di terjemahkan ke dalam bahasa Arab selama periode Islam.

Nestorias memegang pandangan teologis bertentangan dengan orang-orang patriark Konstantinopel dan akibatnya mereka di larang pada 481 CE Nestorias. Para pengikutnya lari dari Byzantium untuk menuju Suriah, tetapi ada penganiayaan di sana beberapa dari mereka melarikan diri ke Mesopotamia. Selanjutnya beberapa dari mereka bekerja di bidang kesehatan. Seperti di Sekolah Jundishapur (yang di dirikan oleh Sassanian King Khusraw Anushirwan pada abad ke-6 M).

Sekolah di Jundishapur bertahan sampai periode Abbasid awal (abad ke-9). Dengan demikian pendidikan dalam satu bentuk atau yang lain tersedia di Mesir, Suriah, Mesopotamia dan Persia pada saat munculnya Islam pada abad ke-7. Meskipun Demikian penduduk ARABIA, di ujung peradaban, tetap dalam ketidaktahuan mereka.

Sumber Informasi dan literatur Peradaban Arab

Untuk melihat pendidikan dalam perspektif kita sekarang harus beralih ke beberapa sumber Arab. Beberapa diambil dari encyclopaedia pendek Ibn Qutaybah (D.276 AH / 889 CE) berjudul Al-Ma’arif (Buku Pengetahuan) [5] dan MAFATIH AL-Ulum Al-Khwarizmi [6] (Kunci untuk Ilmu Pengetahuan), (Dikomposikan CA 977 CE), dan sejarah para filsuf, dokter, astronom dan ahli matematika yang dikenal dalam bahasa Arab sebagai Ta’rikh al-Hukama ‘[7] oleh Ibn al-Qifti (d. 1248). Buku Al-Khwarizmi di anggap sebagai upaya pertama untuk mensurvei ilmu-ilmu Islam. Pekerjaan Ibn Al-Qifti, yang di pekerjakan oleh Saladin yang terkenal (Salah al-Din Ayyubi). literatur ini terdiri dari 414 biografi. Hal ini termasuk juga biografi para filsuf Yunani. Dan juga dokter seperti Euclid, Socrates, Aristoteles, Plato, Galen, Ibnu Sina, Al-Khwarizmi, Al-Farabi, Al-Razi dan Ibn Rushd.

Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Arab Kuno sebelum Islam masuk

Orang-orang Arab dari Semenanjung Arab hidup dekat dengan peradaban zaman kuno yang dekat. Pengetahuan tentang seni kuno, ilmu dan teknologi di transmisikan dari mereka dari Wisemen (Hukama ‘) dan para tetua dalam bentuk cerita rakyat, kisah dan mitos, dan di turunkan dari generasi ke generasi, meskipun sulit untuk menentukan dengan tepat berapa banyak informasi di transmisikan ke orang-orang Arab sebelum munculnya Islam.

Orang-orang Arab menyebut ilmu-ilmu kuno ‘ulum al-awa’il (secara harfiah, “ilmu-ilmu kuno”) dan pada menjadi beradab di bawah Islam mengakui bahwa pengetahuan kuno milik kategori yang AWA’IL (kejadian pertama, zaman kuno) sebagai a tema dalam bab atau sebagai judul buku. Seperti yang telah kita tunjukkan, orang-orang Arab hingga abad ke-6 mentransmisikan semuanya secara oral, termasuk puisi Arab.

Kisah Adam dan Hawa sebagai titik awal penafsiran ajaran islam

Kita belajar dari Ibn Qutaybah di Al-Ma’arif setiap hal kuno yang di ketahui orang-orang Arab. Buku ini di mulai dengan bab tentang Mitos Penciptaan, yang mengutip Genesis dalam Perjanjian Lama sebagai sumber yang di riwayatkan oleh Wahb Ibn Munabbih. Penafsiran sejarah Islam di mulai dengan kisah Adam dan Hawa dan hasil untuk menceritakan peran para nabi dan utusan yang di pilih oleh Allah dari anak-anak mereka sebagai bagian dari proses lulus bimbingan ilahi dari generasi ke umat manusia. Kisah para nabi dan patriark juga di ceritakan oleh sejarawan Arab yang besar al-Tabari dalam bukunya Ta’rikh al-Rusul Wa’l-Muluk (sejarah para nabi dan raja).

Ibn Qutaybah mengklaim bahwa sebelum munculnya Adam dan Hawa, Bumi di huni oleh Spirits (Jin). Menurut Ibn Qutaybah, Adam telah menggarap tanah. Selanjunta Hawa juga telah memiliki kain tenun dan dengan demikian halnya pasangan itu memberikan langkah pertama yang penting menuju kehidupan yang beradab. Putra Adam Qabil menjadi petani, dan saudaranya Habil seorang gembala [8]. Adam memiliki 40 putra dan 20 putri. Adam dipandang sebagai nabi Allah yang menerima wahyu ilahi. Di antara wahyu yang dia terima adalah yang melarang makan daging mati (bangkai). Dia juga belajar dari Tuhan tentang alfabet dan tulisan (mis. Cuneiform). Namun, tidak ada bukti untuk membuktikan ‘mitos’ ini. Kita tahu dari prasasti kuno di Mesopotamia bahwa beberapa bentuk penulisan muncul selama peradaban Sumer pada milenium ke-3 SM.

Anak Keturunan Adam dan Hawa

Di antara keturunan Adam adalah banyak nabi termasuk Seth (Arab Shats) yang, di klaim, hidup 912 tahun dan menerima lima puluh wahyu. Kemudian datanglah Nuh, yang keturunannya adalah Idris (Henokh) [9]. Nuh di kaitkan dengan kisah banjir dan pembangunan bahtera di mana sepasang setiap makhluk hidup di selamatkan dari kepunahan. Di antara anak-anak Nuh adalah Sam (dari mana Semit) dan Ham (dari Hamites atau Hamitics of Afrika) yang, menurut Ibn Qutaybah, adalah Nabi Allah [10]. Di antara para nabi lain yang terdaftar oleh Ibn Qutaybah adalah, HUD, Salih, Abraham, Isma’il (Ismael), Ya’qub (Jacob), Yusuf (Joseph), Ayyub (Pekerjaan), Musa (Muson). Selanjutnya ada Harun, Dawud (David), Sulayman (Solomon), Uzair (Ezra), Danyal (Daniel), Shu’aib, Ilyas, Yasa ‘, Zakariyah (Zakharaya), Yahya (John), Dhu’l-Qifl,’ ISA ( Yesus) dan Muhammad.

Menurut penulis yang sama jumlah total nabi (sebagai pendidik umat manusia) adalah 124.000. Di antara mereka adalah 315 nabi-utusan (Nabiy Rasul); Lima dari mereka berasal dari Syria, yaitu Adam, Shith (Seth), Idris (Enoch), Nuh dan Ibrahim (Abraham); dan lima adalah orang Arab, yaitu HUD, Salih, Isma’il, Shu’aib dan Muhammad (saw pada mereka semua). Ibn Qutaybah juga mengklaim bahwa nabi pertama orang Israel adalah Musa (Musa) dan nabi terakhir mereka adalah ‘Yesus (Yesus) [12]. Pandangan terakhir ini, yang di ekspresikan pada abad ke-9 CE, dapat dianggap kontro¬versial hari ini.

Pengaruh Konsep penciptaan dalam pemikiran Islam dalam Peradaban Arab

Kisah-kisah para nabi-nabi ini berfungsi sebagai ilustrasi pendidik umat manusia yang di ilhami secara ilahi. Selain itu, ‘Mitos Penciptaan’ yang dikutip oleh Ibn Qutaybah telah berulang kali endor oleh penulis Islam selama berabad-abad. Disertasi doktoral modern Universitas Cambridge berjudul ‘Masalah penciptaan dalam pemikiran Islam’ meneliti subjek secara komprehensif dari sudut pandang sumber primer, seperti Al-Qur’an, Hadits, Komentar dan Kalam (Teologi Spekulatif) [13].

Secara keseluruhan, Islam menegakkan teori bahwa setiap makhluk di surga dan di bumi di ciptakan oleh Allah SWT. Ini menyerupai teori Penciptaan Ilahi Nihilo. Karena itu, umat manusia harus menawarkan pujian dan doa kepadanya sebagai tindakan rasa terima kasih dan terima kasih. Dari perspektif Islam, tidak ada dukungan untuk Darwinisme.

Baca/ Tonton Juga:

Kedinastian di Mesir dari masa ke masa

Peradaban Yunani Kuno dan Kontribusi Para Ilmuan Masa Lampau

peradaban yunani kuno

Peradaban Yunani kuno , yang berkembang selama 600 SM-529 M, dalam arti kronologis, merupakan penerus peradaban Timur Tengah Mesopotamia dan Mesir, tetapi dampaknya terhadap orang-orang Arab tidak terjadi sampai dua abad setelah kedatangan Islam.

Sebagaimana diakui oleh sejarawan sains, ”Meskipun sains di masa peradaban Yunani kuno mungkin merupakan kelanjutan dari gagasan dan praktik yang dikembangkan oleh orang Mesir dan Babilonia, orang Yunani adalah orang pertama yang mencari prinsip-prinsip umum di luar pengamatan. Ilmu pengetahuan sebelum Yunani, seperti yang dipraktikkan di Babel dan Mesir, sebagian besar terdiri dari kumpulan pengamatan dan resep untuk aplikasi praktis.

Selain itu mereka juga memperkenalkan metode ilmiah berdasarkan akal dan pengamatan.

Sains di definisikan sebagai ‘tubuh pemikiran yang terorganisir’ dan interpretasi alam semesta di katakan berasal dari sekitar 600 SM dengan sekolah filsuf Yunani Ionia, dan berlanjut hingga awal abad ke-6 M. Menurut salah satu sumber, apa yang di capai sebelum orang Yunani di perlakukan hanya sebagai kemajuan teknologi daripada ilmu teoretis. Dalam rangkuman singkat ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani berikut ini, filsafat akan di kesampingkan.

Peran filosof dalam peradaban Yunani kuno

Para Filsuf Yunani mempelajari ilmu pengetahuan karena rasa ingin tahu, sebagai upaya untuk mengetahui dan memahami sesuatu. Mereka tidak terinspirasi oleh agama atau mitologi, juga tidak tertarik pada penerapan sains. Selain itu mereka juga memperkenalkan metode ilmiah berdasarkan akal dan pengamatan. Mereka membangun institusi, seperti Akademi, Lyceum dan Museum. Dengan penutupan Akademi dan Lyceum pada 529 M, di ikuti oleh Museum, zaman Yunani dalam sejarah sains berakhir. Namun, pengaruh mereka menyebar jauh dan luas setidaknya selama satu milenium.

Kontribusi Para Ilmuan terhadap peradaban Yunani kuno

Ilmuwan Yunani paling awal adalah Thales, Anaximander dan Anaximenes. Thales (ca 600 SM) percaya bahwa air adalah esensi dari fenomena alam. Baginya, materi datang dalam tiga bentuk: kabut, air, dan tanah. Dia juga berpikir bahwa bintang-bintang terbuat dari air. Muridnya Anaximander, (ca 545 SM) di yakini telah menulis buku paling awal tentang sains, yang mengklaim bahwa kehidupan berasal dari laut. Anaximenes (ca 500 SM), seorang murid dari yang pertama, berpikir bahwa udara adalah inti dari alam semesta, dan bahwa pelangi adalah fenomena alam dan bukan tanda ilahi.

Aristoteles

peradapan yunani kuno
Aristoteles

Umumnya di anggap sebagai bapak ilmu kehidupan. Dia mempelajari 540 tumbuhan dan mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan. Dia juga menulis tentang embriologi. percaya bahwa bumi adalah pusat alam semesta.

Ilmuan ini juga berpendapat bahwa gerak di ciptakan oleh suatu benda yang berusaha mencapai tempat alamiahnya.

Hippocrates

peradapan yunani kuno
Hippocrates

Kontribusi Yunani terbesar untuk kedokteran di buat oleh Hippocrates dari Cos, seorang penulis banyak buku, yang Sumpah Hipokratesnya masih di gunakan sebagai kode etik oleh profesi medis. Dia membebaskan kedokteran dari takhayul dan agama. Pengobatan Yunani juga menyebar ke Roma, di mana dokter Galen, melalui pengajaran dan tulisan-tulisannya yang produktif mempopulerkannya.

Empedocles

peradapan yunani kuno
Empedocles

Ilmuwan Yunani Empedocles merumuskan gagasan tentang unsur-unsur (udara, air, tanah, dan api), yang di adopsi oleh Plato. Bagi Plato, geometri adalah metode yang paling cocok untuk berpikir tentang alam.

Euclid

peradapan yunani kuno
Euclid

Dari Alexandria ada Euclid, penulis Elements, adalah ahli geometri Yunani yang paling berpengaruh. Orang-orang Yunani memberikan kontribusi penting untuk matematika, yang merupakan ilmu yang sepenuhnya di dasarkan pada alasan, tanpa perlu observasi atau eksperimen.

Pythagoras (abad ke-5 SM)

peradapan yunani kuno
Pythagoras

Abad ke-5 SM) Pythagoras, Dia menganggap matematika sebagai cabang ilmu pengetahuan yang paling penting.

Diophantus

peradapan yunani kuno
Diophantus

Dia adalah Diophantus di anggap oleh beberapa orang sebagai pendiri ‘aljabar’ Yunani (meskipun istilah itu sendiri berasal dari bahasa Arab).

Archimedes

Archimedes
Archimedes

Penemu Hukum hidrostatika “Archimedes” Dia juga menemukan Archimedian Screw, alat yang di rancang untuk menaikkan air untuk irigasi.

Hero, Insinyur Alexandrian

 Hero
Hero

Insinyur Alexandrian Hero di kreditkan dengan penemuan serangkaian automata. Orang Yunani juga membangun terowongan pembawa air melalui gunung.

Ctesibius

 Ctesibius
Ctesibius

Dia Ctesibius di anggap sebagai pendiri sekolah teknik Aleksandria.

Philon

 Philon
Philon

Dia adalah Philon yang di kreditkan dengan beberapa pencapaian teknis, termasuk pompa gaya, dan jam air yang di gerakkan secara mekanis.

Ptolemy

Ptolemy
Ptolemy

Seorang astronom Yunani besar dari Alexandria, Ptolemy, menulis Almagest, yang menggambarkan gerakan planet dan menempatkan Bumi sebagai pusat Alam Semesta, dengan Matahari dan Bulan berputar di sekitarnya.

Aristarchus

 Aristarchus
Aristarchus

Pada 270 SM, Aristarchus dari Samos menantang ide geosentris , dengan menyatakan bahwa Matahari adalah pusat tata surya. Dia juga menekankan bahwa semua planet lain berputar mengelilingi Matahari.

Ilmu dari peradaban Yunani kuno mencapai Asia Barat dan di tempat lain setelah penaklukan Alexander.

Baca dan Tonton juga:

Sejarah Dinasti Islam di Mesir

Dinasti Islam di Mesir dari Masa ke masa

Berbicara tentang dinasti Islam di Mesir, maka akan membawa kita menengok untuk Peradaban Mesir (ca 3000 SM sampai 300 M). Mesir berkembang setelah Mesopotamia, hal ini di catat sebagai wilayah tempat lahirnya sistem kalender matahari 365 hari (ca 2773 SM).

Pada 1500 SM, ia menghasilkan gnomon, indikator berbentuk L yang di temukan di jam matahari dan jam air (ca 1450 SM).

Pengobatan Mesir, yang di praktikkan oleh para imam pada milenium ke-2 SM, merupakan yang paling canggih di zaman kuno, dan beberapa ukiran sekitar 2500 SM menggambarkan operasi bedah yang sedang berlangsung. Imhotep, seorang Mesir (w. ca 2950 SM), menjadi arsitek Memphis.

Bentuk awal hieroglif (yaitu sistem penulisan), penggunaan papirus sebagai bahan tulisan, dan sistem angka mulai di gunakan sekitar 3000 SM, seperti halnya penggunaan juru tulis oleh Firaun kuno, proses pembalseman dan mumifikasi, dan seni Piramida.

Piramida Giza di antara 2700 dan 2200 SM. Lukisan dan relief di dinding istana kuno dan di dalam Piramida, perabotan elegan dan penggunaan perunggu untuk peralatan juga di antara pencapaian orang Mesir kuno, Piramida menjadi titik tertinggi.

Banyak dari benda seni ini di simpan di Mesir dan dalam koleksi di seluruh dunia. Pengetahuan tentang peradaban kuno ini di sebarkan melalui kisah-kisah yang di ceritakan oleh orang orang bijak Arab.

Perjalanan panjang Dinasti Islam di Mesir

Sebagai sebuah negeri, Mesir memiliki sejarah panjang. Mulai dari masa Fir’aun, khalifah, hingga masa republik. Sejak zaman kuno (4.000 SM), Mesir telah memiliki peradaban yang tinggi.

Islam masuk ke Mesir pada abad 7 ketika Khalifah Umar bin Khatab memerintahkan
Amr bin As membawa pasukan tentara Islam untuk mendudukinya. Setelah menduduki
Mesir, Amr bin As menjadi amir (gubernur) di sana (632-660) dan menjadikan
Fustat (dekat Kairo) sebagai pusat pemerintahan.

Pada masa-masa selanjutnya, Mesir berada di bawah pemerintahan dinasti seperti
Umayah, Abbasiyah, Tulun (868-905), Ikhsyid (935-969), selanjutnya Fatimiah (909-1171),
Ayubiyah (1174-1250) yang di tandai dengan Perang Salib (1096-1273), dan Mamluk
(1250-1517). Selanjutnya masa sesudahnya, Mesir menjadi bagian dari Kerajaan Turki
Ottoman. Dalam rentang penguasaan pemerintahan dinasti itu, masa jaya Islam di
Mesir terjadi pada masa Dinasti Fatimiah ketika ibu kota pindah ke Kairo dan
Universitas Al Azhar di dirikan.

Munculnya Dinasti Fatimiah Sebagai awal berdirinya peradaban baru Masir

Di bawah Dinasti Fatimiah, Kairo mencapai kejayaan sebagai pusat pemerintahan.
Dinasti ini menorehkan kegemilangan selama 200 tahun. Wilayahnya mencakup
Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan
Hijaz. Kairo pun tumbuh sebagai pusat perdagangan di kawasan Laut Tengah dan Samudera Hindia. Sementara ibu kota Mesir sebelumnya, Fustat, menjadi bagian dari wilayah administratifnya.

Mesir sebagai pusat pendidikan dan aktifitas intelektual

Pada era itu pula, Kairo menjelma menjadi pusat intelektual dan kegiatan ilmiah
baru. Bahkan, seperti tertulis dalam Ensiklopedia Islam untuk Pelajar, pada masa
pemerintahan Abu Mansur Nizar al Aziz (975-996), Kairo mampu bersaing dengan dua
ibu kota Dinasti Islam lainnya, yakni Baghdad di bawah Dinasti Abbasiyah dan
Cordoba sebagai pusat pemerintahan Dinasti Umayyah di Spanyol

Pembangunan dan seni arsitektur berkembang pesat

Dinasti Islam di Mesir

Seperti halnya Dinasti Islam lainnya seperti dinasti Umayah yang mampu membangun istana,
Dinasti Fatimiah pun mampu mendirikannya. Tak hanya istana, ketiga dinasti yang
berada di tiga benua berbeda itu pun ‘berlomba’ membangun masjid. Dinasti
Abbasiyah di Baghdad bangga memiliki Masjid Samarra, Dinasti Umayyah membangun
Masjid Cordoba, dan Fatimiah memiliki Masjid Al Azhar.

Dinasti Islam di Mesir dengan Sistem Demokrasi dan Pemerintahan yang tertata rapi

Di bidang administrasi negara, Fatimiah pun menorehkan sesuatu yang patut di tiru
oleh para penguasa di era berikutnya, termasuk di era modern saat ini. Dalam
merekrut pegawai, misalnya, pemerintahan Fatimiah mengutamakan kecakapan
dibandingkan pertalian keluarga. Artinya mereka menjauhi praktik yang di sebut
masyarakat modern sebagai nepotisme. Semangat toleransi pun di kembangkan.
Penganut Sunni dan Syiah memiliki peluang yang sama untuk menduduki suatu
jabatan.

Kairo sebagai pusat pemerintahan

Pada akhir masa kejayaan Fatimiah, Kairo hampir saja jatuh di bawah penguasaan
tentara Perang Salib. Beruntung, panglima perang Salahudin Al Ayubi berhasil
menghalaunya. Sejak itu, Salahudin mendeklarasikan kekuasaannya di bawah bendera
Dinasti Ayubiyah, yang hanya bertahan 75 tahun. Kairo kemudian diambil alih
Dinasti Mamluk sebagai dinasti islam di Mesir terakhir. Sekitar tiga abad lamanya, dinasti Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat
pemerintahan.

Baca dan tonton juga:

Sejarah perkembangan pengetahuan Islam

Mesopotamia dan peradaban Islam

Sekitar tiga abad lamanya, Mamluk menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahan.

Pengetahuan Islam dan Sejarah Perkembangannya

Peradapan Bangsa Arab

Artikel tentang Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam ini di tulis oleh Dr Muhammad Abdul Jabbar. Tulisan ini mempunyai fokus khusus pada interaksinya dengan tradisi intelektual dunia kuno sebelumnya serta survei tentang awal aktivitas ilmiah dalam bahasa Arab. Pada bagian pertama ini, ia menggambarkan secara rinci dampak prinsip Islam dalam membentuk kontur aktivitas ilmiah awal dalam peradaban Muslim. Selanjutnya, pada bagian kedua, penulis mensurvei beberapa kontribusi penting para ilmuwan Islam di bidang astronomi, matematika, kimia, dan kedokteran.

Ilmu Pengetahuan Kuno dan Arab dan Hubungannya dengan Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam

Pada awal abad ke-7 M, sangat sedikit orang Arab yang bisa membaca, menulis, atau berhitung. Namun, sekelompok pedagang elit yang melakukan perjalanan dari kota-kota seperti Mekkah, Yathrib, Khaybar dan dari Yaman ke pusat peradaban kuno, termasuk Suriah, Mesopotamia dan Mesir, terbuka terhadap pengaruh luar. Segelintir pedagang yang akrab dengan membaca dan menulis dari satu jenis atau lainnya. Di antara mereka adalah anggota suku Quraisy dan merekalah yang membawa pengaruh asing ke pusat-pusat perdagangan Arab. Namun demikian, sebagian besar penduduk Arab adalah penggembala yang sering bertengkar di antara mereka sendiri. Hanya selama musim haji ke Mekah pertempuran di tinggalkan dengan persetujuan bersama.

Secara keseluruhan lingkungan Arab tidak mendorong tumbuhnya nilai-nilai beradab. Sulit untuk melihat bagaimana orang primitif seperti itu dapat muncul dari keterbelakangan berabad-abad ke tingkat budaya.

Perjalanan orang-orang Arab dari kegelapan menuju cahaya adalah salah satu teka-teki sejarah dan hanya sedikit sejarawan yang dapat menjelaskan fenomena tersebut secara memadai. Dengan memanfaatkan kekuatan fisik dan spiritual laten mereka, orang-orang Arab entah bagaimana merekonstruksi kehidupan mereka sendiri. Di mulai dengan tabula rasa, mereka mencapai kemajuan yang menakjubkan. Terutama dalam kehidupan sosial, politik dan intelektual mereka dalam waktu yang sangat singkat.

Bagaimana bisa mereka melakukan hal ini? Luar biasa meskipun bagi mahasiswa sejarah yang belum tahu apa-apa. Orang-orang Arab ini tidak hanya mengubah cara berpikir mereka tetapi juga pandangan mereka tentang dunia dan peran mereka di dalamnya. Hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk menyerap ajaran seorang visioner seperti Nabi Muhammad ibn Abdullah daripada mereka menjadi kekuatan penakluk yang kuat yang telah memenangkan sebuah kerajaan dalam waktu lima puluh tahun setelah kematian mentor mereka. Bagaimana orang-orang seperti itu dapat memberikan kontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan apa pun, baik itu alam, fisik, atau sosial?

Sejarah ilmu pengetahuan Islam
Manuskrip Al-Qur’an

Pandangan Sejahrawan

Sejarawan harus menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan lain yang mungkin muncul darinya. Dari sudut pandang sejarah, akan tampak tidak masuk akal untuk membicarakan asal usul segala bentuk ilmu pengetahuan Islam dalam satu atau dua abad setelah kebangkitan Islam. Bagaimana dan di mana kita memulai diskusi semacam itu?. Untuk menemukan jawaban atas kebangkitan fenomenal Islam dan ilmu-ilmu Islam, kita melihat peran Islam di Eropa, ketika buku-buku Arab tentang sains dan filsafat di terjemahkan ke dalam bahasa Latin di Kerajaan Arab Spanyol, Sisilia dan Italia selatan dan efeknya. perkembangan ini pada masyarakat Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 Masehi.

Jika kita melanjutkan dari pendahuluan ini ke diskusi yang tepat tentang kebangkitan ilmu-ilmu Islam. Kita harus mengambil pandangan yang lebih luas tentang sejarah dunia. Menurut pendapat saya, asal-usul ilmu-ilmu Islam dapat di telusuri kembali sebagian ke warisan ilmiah Sumeria, Babilonia, Mesir, Yunani, Persia dan India. Sebagian dari inspirasi yang berasal dari Al-Qur’an dan sabda Nabi Muhammad ( hadits). Dan juga sebagian kepada kejeniusan intelektual dan kreatif para ilmuwan, pemikir, dan filosof Muslim selama lima ratus tahun sejarah Islam (abad ke-7-11 M). Tampaknya kita membutuhkan penjelasan yang memuaskan untuk memahami perkembangan ilmu pengetahuan Islam dan akar intelektual peradaban Islam.

Dalam mencoba mendekati subjek seperti itu, kita memasuki area yang berpotensi kontroversial dan area yang membutuhkan banyak penelitian dan ketekunan. Tiga faktor penting yang perlu di analisa: (1) asal-usul ilmu pengetahuan dan pengaruhnya terhadap bangsa Arab. (2) inspirasi yang di peroleh umat Islam dari ajaran Al-Qur’an dan Hadits, (3) pencapaian para ulama. Ilmuwan dan pemikir muslim di berbagai cabang ilmu pengetahuan. Kita dapat merujuk ke tiga sumber penting ilmu pengetahuan Islam ini satu demi satu. Dengan demikian, seseorang tidak dapat mengabaikan relevansi ilmu-ilmu Islam dengan Eropa abad pertengahan [1].

Baca dan Tonton Juga:

Perkembangan Islam di Eropa

Dunia Paralel Menurut Al Quran

Memahami Takdir dan Menemukan Hikmah Yang Ada di Baliknya

takdir

Memahami Takdir dan Cara Menemukan Hikmah Yang Ada di Baliknya. Kadang manusia harus menjalani ketentuan dan ketetapan yang dalam pandangan mata terlihat pedih dan menyakitkan. Jiwa ikut membenci, sedih dan galau, lalu sampai pada suatu titik di mana ia berkesimpulan bahwa apa yang di alaminya merupakan takdir buruk dari Allah Ta’ala. Padahal tanpa di ketahuinya, takdir itu di kemudian hari menjadi kebaikan yang banyak. Sebaliknya, betapa banyak orang yang terlihat baik dan semua urusannya lancar tanpa masalah, namun ternyata di kemudian hari semua berujung pada keburukan dan petaka.

Memahami Takdir dan Mengimaninya

Iman kepada Takdir merupakan salah satu pokok iman dan merupakan rukun iman yang enam. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini merupakan ketentuan yang telah di tetapkan oleh Allah Ta’ala sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 2653).

Patut di ketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip yang harus diimani oleh setiap muslim. Keempat prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu baik secara global maupun terperinci, sejak zaman azali hingga selamanya, baik itu perbuatan yang di lakukan oleh Allah Ta’ala maupun perbuatan makhluk-Nya.

Mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfuzh catatan takdir segala sesuatu.

Mengimani bawa segala sesuatu tidak akan terjadi melainkan karena kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah Ta’ala sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya.

Mengimani bahwa segala sesuatu adalah makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Dan ciptaan Allah Ta’ala mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya dan gerak-geriknya. (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal. 63-64)

Memahami Takdir Allah dan Kehendak Makhluk-Nya

Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan bahwa manusia memiliki kehendak dalam perbuatan-perbuatannya serta memiliki kemampuan untuk melaksanakannya. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang menunjukkan ketetapan hal tersebut. Dengan kehendak dan kemampuannya dia bisa melakukan dan meninggalkan sesuatu. Dia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya seperti berjalan, dan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya seperti gemetar. Namun, kehendak dan kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila di kehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir : 28-29). (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 64-65)

Di antara prinsip ahlussunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Ahlussunnah beriman bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan seluruh takdir sejak zaman azali, dan Allah Ta’ala mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi Al-Quran dan As-Sunnah mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qadariyyah adalah kelompok yang mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah Ta’ala, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah Ta’ala terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Pemahaman di kenal dengan pemahaman Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah Ta’ala, Jadi menurut mereka hamba di paksa dalam perbuatannya. (Al-Mufid fi Muhimmati At-Tauhid, hal 37-38)

Memahami Takdir Baik dan Buruk

Qadar terkadang di sifati dengan baik ataupun buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang di maksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah Ta’ala berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir di sifati buruk, maka yang di maksud adalah buruknya sesuatu yang di takdirkan tersebut, bukan takdir yang yang merupakan perbuatan Allah Ta’ala, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah Ta’ala yang buruk, seluruh perbuatan Allah Ta’ala mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang di maksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah Ta’ala. (Syarh Al-Aqidah Al-Wasithiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 70)

Perhatikanlah kisah Ibunya Nabi Musa saat melarungkan bayinya ke sungai Nil. Jika kita membaca susunan kejadian sejarahnya, maka kita akan menemukan bahwa tidak ada yang paling menyakitkan dan menyedihkan dalam kehidupan Ibu Musa selain saat di ilhamkan ke dalam hatinya oleh Allah Ta’ala agar menghanyutkan bayinya ke dalam sungai Nil. Namun, cerita ini berakhir dengan keindahan. Allah Ta’ala mengembalikan anaknya tersebut ke dalam pangkuannya dan kelak anaknya tersebut menjadi seorang Nabi yang di utus kepada Bani Israil.

Jangan Hanya Bersandar Kepada Takdir

Segala sesuatu yang telah di takdirkan oleh Allah Ta’ala bukan berarti kita hanya tinggal duduk berpangku tangan dan menunggu semuanya terjadi tanpa melakukan usaha sama sekali. Sungguh ini adalah kesalahan yang nyata. Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas. Apabila kita telah mengambil sebab dan mendapatkan hasil di luar keinginan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya telah terjadi. Andai pun Allah Ta’ala menakdirkan yang lain sungguh hal itu akan terjadi pula. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seadainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qadarullahi wa maa sya’a fa’ala’ Karena perkataan ‘seandainya’ akan membuka pinta syaitan.” (HR. Muslim no. 2664) (Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad li Syaikh Al-Fauzan, hal 316)

Memahami takdir dan Manfaat Iman yang Benar Terhadap Takdir

Memahami takdir dan Manfaat Iman yang Benar Terhadap Takdir.
https://religiseni.online

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang berharga. Demikian pula keimanan yang benar terhadap takdir akan memberikan manfaat yang besar, di antaranya sebagai berikut:

  1. Hanya bersandar kepada Allah Ta’ala ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada qadar Allah Ta’ala.
  2. Seseorang tidak sombong terhadap diri sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah Ta’ala, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah di takdirkan oleh Allah Ta’ala. Kekaguman terhadap diri sendiri akan menyebabkan lupa untuk mensyukuri nikmat tersebut.
  3. Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah Ta’ala yang menimpa, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang di cintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang di bencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan qadar Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan terlalu sedih dan putus asa terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang di berikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid : 22-23) (Nubdzah fil ‘Aqidah Al-Islamiyah li Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, hal 69-70)

Ada Hikmah di Balik Setiap Takdir

Setiap orang hendaknya berusaha semaksimal mungkin melakukan kebaikan dalam hidupnya, meskipun pada akhirnya ia bukanlah orang yang menentukan hasil akhir atau dampak dari setiap aktivitasnya.

Hendaknya seorang mukmin menghadirkan tawakkal kepada Allah Ta’ala, bekerja dan bersungguh-sungguh menjalankan aktivitasnya sesuai dengan kemampuannya. Namun, jika terjadi sebuah peristiwa di luar dugaan dan kehendaknya, maka ia harus segera ingat akan kaidah mulia ini. Allah Ta’ala berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui dan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216) (Qawa’id Qur’aniyyah, hal. 21)

Ketahuilah, keburukan yang terjadi dalam takdir tidak selamanya merupakan keburukan yang hakiki bagi hamba, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan. Apapun yang menimpa diri seseorang, segalanya telah di atur oleh Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menginginkan agar manusia mengimani segala takdir Allah Ta’ala dan menyadari bahwa demikianlah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya. Dia menjadikan kehidupan beserta segala lika-liku kebahagian dan kesedihan membuat mereka hanya bergantung kepada Allah Ta’ala semata. Wallahul muwaffiq.

Tonton: Makna Takdir dan Cara Memahaminya

Baca Juga:

Rizki Menurut Al Ghazli

Arti Sukses Dalam Islam

Bahagia Menurut Islam

Bahagia, inilah yang senantiasa di kejar oleh manusia. Manusia ingin hidup bahagia. Hidup tenang, tenteram, damai, dan sejahtera. Sebagian orang mengejar kebahagiaan dengan bekerja keras untuk menghimpun harta. Dia menyangka bahwa pada harta yang berlimpah itu terdapat kebahagaiaan. Ada yang mengejar kebahagiaan pada tahta, pada kekuasaan. Beragam cara dia lakukan untuk merebut kekuasaan. Sehab menurtnya kekuasaan identik dengan kebahagiaan dan kenikmatan dalam kehidupan. Dengan kekuasaan sesrorang dapat berbuat banyak. Orang sakit menyangka, bahagia terletak pada kesehatan. Orang miskin menyangka, bahagia terletak pada harta kekayaan. Rakyat jelata menyangka kebahagiaan terletak pada kekuasaan. Dan sangkaan-sangkaan lain. Lantas apakah yang di sebut” Hidup Bahagia’ (sa’adah/happiness)? Bagaimana makna bahagia menurut Islam.??

Lantas apakah yang di sebut Hidup Bahagia (sa’adah/happiness)?

Selama ribuan tahun, para pemikir telah sibuk membincangkan tentang kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di luar manusia, dan bersitat kondisional. Kebahagiaan bersifat sangat temporal. Jika dia sedang berjaya, maka di situ ada kebahagiaan. Jika sedang jatuh, maka hilanglah kebahagiaan. Maka. menurut pandangan ini tidak ada kebahagiaan yang abadi dalam jiwa manusia. Kebahagiaan itu sifatnya sesaat, tergantung kondisi eksternal manusia. Inilah gambaran kondisi kejiwaan masyarakat Barat sebagai: “Mereka senantiasa dalam keadaan mencari dan mengejar kebahagiaan, tanpa merasa puas dan menetap dalam suatu keadaan.

Makna bahagia dan sejahtera menurut islam

Dalam Islam “Kesejahteraan’ dan “kebahagiaan” itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanya dapat di nikmati dalam alam fikiran belaka.

Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang di cari-cari itu — yakni: keyakinan akan Hak Ta’ala — dan penuaian amalan yang di kerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.’

Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang di penuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanan meskipun dalam kondisi di siksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus di jebloskan ke penjara dan di cambuk setiap hari, karena menolak di angkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan.

Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya?

Bahagia menurut pendapat Al Ghazali

Menurut al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma’rifatullah”, telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan:

“Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia.

Ada pun kelezatan hati ialah ma’rifat kepada Allah, karena hati di jadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat herkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden.

Ilmu menghantarkan Kebahagian hidup

Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat di bayangkan  oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma’rifat yang lebih lezat daripada ma’rifatullah.

Ma’rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah” (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah.

Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan diri sendiri.

Di samping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, di sebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa “Tiada tuhan selain Allah”, dan bersakssi bahwa “Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam.”

Inilah yang di sebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat.

Kriteria inilah yang harusnya di jadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta’dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan di ukur dari berapa mahalnya uang hayaran sekolah; berapa banyak yang di terima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya.

Hanya manusia yang berilmu yang akan memperoleh kebahagiaan hidup

Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya bahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang di turunkan melalui utusan-Nya.

Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang di taburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itu, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan diri ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan.

Bahagia menurut islam adalah bahagia dalam segala kondisi

Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia menurut Islam ; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam kondisi apa pun. maka “senangkanlah hatimu!” Jangan pernah bersedih.

“Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu.

“Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu…”

“Kalau engkau di lupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu…”

Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin.

Baca juga:

Hikmah Kebahagiaan dibalik Takdir

Qana’ah dan Bahagia

Makna Sukses Dalam Islam

Fenomena alam semesta Terungkap Oleh Al Quran

Fenomena alam semesta Terungkap Oleh Al Quran.
Fenomena alam semesta banyak sekali yang masih menjadi misteri bagi kita. Akan tetapi jika kita mau membuka dan mentadaburi Al Quran. kita akan mendapati banyak informasi dan penjelasan yang akan mengungkap tabir mesteri alam semesta. Perihal diameter alam semesta, terbelahnya bulan, runtuhnya langit, takhluknya matahari dan perihal gugusan bintang bintang adalah bagian dari fenomena yang di ungkap Al Quran.

Al Quran mengungkap fenomena alam tentang diameter alam semesta

diameter alam semesta

Allah berfirman menantang manusia dan jin:

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانْفُذُوا لَا تَنْفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ

“Hai bangsa jin dan manusia”. Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, Maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. (Ar-Rahman:33) ini adalah bagian dari fenomena alam yang tersirat dalam Al Quran.

Secara Ilmiah di tetapkan bahwa tidak mungkin bagi seseorang dapat keluar dari alam semesta. Hal ini karena jarak yang memisahkan kita bahwa galaksi paling jauh adalah sama dengan dua puluh ribu juta tahun cahaya. Sekalipun manusia mampu berjalan dengan kecepatan cahaya karena ia merupakan kecepatan tertinggi di alam semesta. Kita tetap membutuhkan waktu dua puluh ribu juta tahun. Renungkanlah, apakah ada yang mampu? Fakta ilmiah ini di tetapkan Al-Qur’an sejak empat belas abad yang lalu! ini adalah salah satu bentuk fenomena alam yang terungkap oleh Al Quran.

Penjelasan Al Quran tentang Fenomena Alam Terbelahnya bulan

Para ilmuwan dari badan antariksa Amerika NASA baru-baru ini menemukan adanya celah pada permukaan bulan. Celah dengan panjang ribuan kilometer. Mereka juga menemukan berbagai keretakan secara lunar, dan tidak ada yang tahu penjelasannya sedikitpun. Hingga sekarang fenomena belum bisa mereka jelaskan. Namun Al-Quran menunjukkan akan hal tersebut secara terang dan gamblang,Allah SWT berfirman:

fenomena terbelahnya bulan

Hari kiamat telah dekat dan terpecahlah bulan” [Al-Qamar: 1], dan mungkin dapat dikatakan bahwa bagian ini dan gambarnya sebelum ilmuwan barat menegaskan bahwa ini merupakan bukti sudah dekatnya hari kiamat. Wallahu a’lam”.

Fenomena Alam Runtuhnya langit dalam Al Quran

Para ilmuwan menegaskan kemungkinan jatuhnya lapisan ozon ke Bumi oleh arena bebannya yang sangat berat. Namun ada hukum sangat detail sekali untuk mempertahankan lapisan tersebut. Jika undang-undang ini di rusak dan di abaikan maka mengarah pada tarikan lapisan yang terdiri dari udara dan awan yang berat.  Yang mana jumlahnya mencapai miliaran ton ke permukaan bumi dan berakibat pada kematian makhluk hidup untuk selamanya. Dan nikmat ini telah di ingatkan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah:

وَيُمْسِكُ السَّمَاءَ أَنْ تَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ إِلَّا بِإِذْنِهِ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan Dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia”. (Al-Hajj: 65). Subhanallah..

Penjelasan Al Quran tentang Takhluknya Matahari

Sekiranya manusia memiliki kemampuan untuk mendapatkan manfaat dari seluruh energi yang dipancarkan oleh matahari selama satu detik saja. Maka energi ini akan cukup untuk mensuplai energi seluruh dunia untuk jangka waktu seratus ribu tahun lamanya! Karena itu marilah kita renungkan berapa banyak energi yang dipancarkan oleh matahari. Dan berapa banyak kemajuan dari di hasilkan dari layanan gratis Allah untuk kita semua. Sungguh benar akan firman-Nya:

وَسَخَّرَ الشَّمْسَ

“Dan Dialah Allah yang telah menaklukkan matahari”. (Ar-Ra’ad:2)

Makna dari di taklukkan secara bahasa adalah menanggung segala beban tanpa meminta upah sedikitpun. Inilah yang di lakukan terhadap matahari, karena itu apakah kita ingat akan nikmat Allah ini?

Informasi Al Quran tentang Gugusan-gugusan bintang

Allah berfirman:

“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang” (Al-Furqan:61).

Kata (buruj/gugusan bintang) memperlihatkan kepada kita akan  keajaiban hakiki dalam Al-Quran. Fakta ilmiah inilah yang di banggakan oleh Barat bahwa mereka adalah orang yang pertama kali menemukan itu yaitu struktur kosmik.

Yang menakjubkan lagi adalah ilmuwan Barat saat ini mulai membuat istilah baru seperti struktur kosmik, bangunan kosmik dan kain kosmik. Mereka merasa menemukan bahwa galaksi yang banyak yang berjumlah ribuan juta dan mengisi alam semesta tidak terjadi secara acak. Namun ia merupakan bangunan yang kokoh dan galaksi besar, yang panjangnya mencapai ratusan juta tahun cahaya! Karena kata (gugusan bintang) di dalamnya terdapat isyarat akan bangunan yang agung, kokoh dan besar bentuknya. Inilah yang kita lihat sesungguhnya pada galaksi kosmik yang terdiri dari jutaan galaksi. Yang mana masing-masing galaksi dari galaksi-galaksi tersebut terdiri dari miliaran bintang!! Karena itu renungkanlah akan keagungan Sang Pencipta dan Maha Kuasa ini.

Baca Juga: Kosmologi Al Quran , Al Quran dan Ilmu Pengetahuan , Religiseni

Alam Semesta dan Kosmologi Menurut Al-Quran

Alam Semesta atau Kosmos (bahasa Yunani: κόσμος yang berarti keteraturan, susunan yang teratur, hiasan) dalam pengertian yang paling umum adalah suatu sistem dalam alam semesta yang teratur atau harmonis. Ilmu yang mempelajari kosmos disebut dengan kosmologi. Bagaimana para ahli dan astonom menjelaskannya dan bagaimana pula Al Quran memberikan petunjuk tentang hal ini?

“Dan demi langit yang mempunyai jalan-jalan” {Yang dimaksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet). ….

Asumsi dan Fakta

Selama ribuan tahun banyak orang menganggap bahwa alam semesta ini adalah statis, dan mereka berpikir bahwa bumi ini adalah pusat alam semesta, berputar mengelilingi dan mengitari matahari, planet-planet dan bintang-bintang. Dan pada awal abad kedua puluh di temukan bahwa kebanyakan bintang yang terlihat dengan mata telanjang adalah hanya sebagian kecil dari galaksi “The Milky Way”, dan galaksi ini berisi lebih dari seratus ribu juta bintang, dan matahari adalah salah satu bintang dari galaksi. Namun, galaksi kita bukan satu-satunya yang ada di alam semesta ini, setelah itu para ilmuwan sadar bahwa alam semesta ini penuh dengan galaksi dan bintang-bintang.

Para ilmuwan telah mempelajari alam semesta ini dan berbagai hal yang teradapat di dalamnya seperti bintang-bintang, galaksi dan kosmis berdebu, sehingga mereka yakin bahwa makhluk ini tersebar dan tidak ada satu aturan pun yang mendistribusikannya. Namun ternyata kemudian di temukan bahwa ada sistem kontrol yang ketat terhadap distribusi materi yang ada di alam semesta ini.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada ruang kosong di alam semesta ini, namun ia merupakan bangunan yang kokoh terdiri dari berbagai benda yang secara mayoritas berasal dari materi yang gelap dan energi gelap yang tidak tampak jelas. Adapun materi visual yang dapat terlihat dengan kasat mata di alam semesta ini jumlahnya hanya 4 persen saja. Karena itulah,  sejak beberapa tahun yang lalu minat para ilmuwan dalam mempelajari distribusi materi alam semesta mulai tampak, mereka memulainya dengan mengajukan pertanyaan: Apa bentuk alam semesta ini, terutama  jika kita melihatnya dari luar angkasa? Atau dengan kata lain: Bagaimana mendistribusikan galaksi dan bintang-bintang di alam semesta yang luas ini?

Kosmologi dan Penataan Kosmos

Tentunya untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut membutuhkan pembuatan komputer super canggih dan besar, bisa jadi beratnya lebih dari seratus ribu kilogram, dan proses yang di lakukan oleh komputer harus memiliki kecepatan satu detik, yang tentunya membutuhkan penghitungan digital biasa selama 10 juta tahun untuk menyelesaikannya. Yang mana komputer tersebut akan membuat  sebuah gambar mikrokosmos yang ada pada alam semesta ini.

Setelah selesai memasukkan penyimpanan  lebih dari sepuluh ribu juta informasi, termasuk informasi mengenai perluasan alam semesta, dan perilaku bintang-bintang dan galaksi, benda gelap, gas dan debu, serta informasi lainnya yang jumlahnya lebih dari 20 juta galaksi! Perangkat ini akan melakukan proses komputer terbesar yang di rancang untuk memetakan mikrokosmos alam semesta, namun, sekalipun berada dalam kecepatan tertinggi penggunaan perangkat ini tetap hanya dapat bekerja dalam pengolahan data selama 28 hari saja.

Ketika para ilmuwan menyaksikan gambar ini, maka mereka langsung menyadari bahwa galaksi-galaksi ini tidak  terdistribusi secara acak, namun berbaris pada  benang yang tipis dan panjang, dan benang ini terikat dengan kuat, seakan membentuk seperti  permadani alam semesta yang hebat! Sebagaimana mereka juga menyadari bahwa setiap helai kain ini telah menjadi plot galaksi dalam bentuk yang kuat. Oleh karena itu, para ilmuwan menyebutnya dengan istilah baru «kain kosmik”.

Dalam gambar tersebut tampak dengan jelas benang alam semesta dan mewakili titik poin yang jelas di berbagai tempat berkumpulnya planet dan galaksi, yang juga seakan seperti kain kosmis.

Petunjuk Al Quran Tentang Kosmologi dan Kejadian Alam Semesta

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah bahwa Al-Quran sangat jelas telah memberikan petunjuk, sehingga jelas kesempurnaan akan jaringan yang kuat dan yang di kelilingi oleh arbiter benang yang tersusun begitu rapi, Allah SWT berfirman:

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْحُبُكِ

“Dan demi langit yang mempunyai jalan-jalan” {Yang di maksud adalah orbit bintang-bintang dan planet-planet). Bahwa kata Al-Hubuk mengungkapkan kerapian dan ketelitian akan hakikat benang alam semesta. Dan inilah yang telah di tegaskan oleh para ulama tafsir dan ahli bahasa.

Imam Al-Qurthubi berkata pada kitab tafsirnya tentang kata (al-hubuk): «Apakah Anda tidak melihat para penenun pada saat menenun tenunan lalu baik dalam tenunannya, maka di katakan kepadanya pemilik tenunan baju, tenunan yang sangat bagus atau ahli dalam tenunannya”.

Terbentuknya alam semesta

 Adapun Imam Zamakhsyari dalam menafsirkan kata (al-hubuk) berkata: «Jika seorang penjahit bagus dalam tenunan dan jahitannya maka mereka akan berkata: betapa indahnya jahitan/tenunan tersebut”.

Para ulama bahasa juga memperkuat akan makna ini dengan berkata: «al-hubuk adalah kekuatan dan ketepatan, dan baik dalam melakukan dampak pengerjaan pada baju”.

Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa para ahli tafsir dan ahli bahasa menunjukkan sejak berabad-abad yang lampau akan tenunan, kekuatan, dan ketetapan, dan demikianlah yang di temukan oleh para ilmuwan saat ini dengan perangkat yang modern dan terus berkembang pada abad ke dua puluh satu. Subhanallah!

Pendapat Para Astronom Tentang Pola Terbentuknya Alam Semesta

Ada hal lain yang menarik perhatian. Para astronom mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya di temukan di dalamnya kain kosmis, Profesor “Carlos Swiss” salah satu penemu tenunan berkata:

“Mungkin penemuan ini adalah hal terbesar yang telah kita lakukan dalam komputasi Fisika. Bahwa kita dan untuk pertama kalinya memiliki replika alam semesta, yang terlihat cukup nyata seperti bumi yang sebenarnya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa konsep kosmik tidak di ketahui selama turunnya Al-Quran. Ini berarti bahwa Al-Quran sudah mendahului penemuan para ilmuwan yang merujuk pada struktur kain kosmis. Hingga menjadikan kemukjizatan ini sebagai bukti yang jelas bagi setiap orang  yang memiliki keraguan terhadap Al-Qur’an. Hingga menjadi sarana yang lembut untuk menambah keimanan kepada Allah yang Maha Esa sesuai dengan firman Allah:

سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri. Hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. (Fushilat:53)

Baca juga : Time Travel Menurut Al Quran , Dunia Paralel , Ilmu Pengetahuan Islam dan Peradapan

Referensi:

[1] E Papantonopoulos, The Physics of the Early Universe, Springer,2005.

[2] Volker Springel, Professor Carlos Frenk. Professor Simon White, Millennium Simulation – the largest ever model of the Universe, University of Durham, 2005.

[3] Matts Roos, Introduction to Cosmology, John Wiley and Sons, 2003.

[4] Robert Sanders, “Dark matter” forms dense clumps in ghost universe, University of California, 05 November 2003.

[5] Michael Rowan-Robinson, Cosmology, Oxford University Press, 1996.

[6] Malcolm S. Longair, The Cosmic Century, Cambridge University Press, 2006.

[7] Klapdor-Kleingrothaus, Dark Matter in Astro- And Particle Physics, Springer, 2003.

[8] Neil J C Spooner, Vitaly Kudryavtsev, The Identification of Dark Matter, World Scientific, 2001.

[9] The Age of the Universe, Dark Matter, and Structure Formation. Colloquium on the Age of the Universe St, National Academies Press, 1998.

[10] N Katherine Hayles, Cosmic Web, Cornell University Press, 1984.

[11] Robert A. Simcoe, The Cosmic Web, Americanscientist, Volume: 92 Number: 1 Page: 30, 1.30. 2004.

[12] Maggie McKee, Washington DC, Mini-galaxies may reveal dark matter stream, New Scientist, 12 January 2006.

[13] David Wands, A brief history of cosmology, www-history.mcs.st-andrews.ac.uk, March 1997.

[14] Our own Galaxy – the Milky Way, University of Cambridge, www.cam.ac.uk.

[15] BBC News Onlin, Supercomputer to simulate bomb tests, news.bbc.co.uk, 30 June, 2000.

[16] Palle Møller, Johan Fynbo, Bjarne Thomsen,  A Glimpse of the Very Early Universal Web, European Southern Observatory, 18 May 2001.

[17] Tim Radford, A duplicate universe, trapped in a computer, www.guardian.co.uk, June 2, 2005.

[18] Biggest ever cosmos simulation, news.bbc.co.uk, 1 June, 2005.

[19] Heather Hasan, How Mathematical Models. Computer Simulations and Exploration Can Be Used To Study The Universe, p134, The Rosen Publishing Group, 2005.

[20] Manolis Plionis, Spiros Cotsakis, Modern Theoretical and Observational Cosmology, Springer, 2002.

[21] J. Richard Bond, Lev Kofman & Dmitry Pogosyan. How filaments of galaxies are woven into the cosmic web, Nature 380, 603 – 606 ,18 April 1996.

Ilmu Pengetahuan Islam dan Peranannya Terhadap Peradapan

Peranan Islam dalam teknologi dan Ilmu Pengetahuan. Kita semua tahu bahwa Islam adalah agama yang universal. Tidak ada agama di dunia ini selain Islam yang dapat membawa misi universal sampai ke penjuru bumi. Hingga dimanapun kita menginjakan kaki, maka kita dapat menemukan Islam disana. Bahkan para tokoh-tokoh barat pun mengakui bahwa jika tanpa Islam maka dunia ini akan sangat miskin budaya dan karya intelektual.

Graham Fuller Memaparkan , seorang mantan CIA dalam bukunya A World Without Islam, “Kalau bukan karena Islam, dunia ini akan miskin peradaban, intelektual dan kebudayaan…” Bahkan bukan hanya itu, pengakuan lain datang dari seorang George Sarton dalam karyanya The History of Science dia menulis, “Umat Islam merupakan bangsa yang cerdas, jenius di wilayah timur (Middle East) pada abad pertengahan dan memberikan sumbangan besar bagi umat manusia”.

Islam Agama Peradapan

Sebagai agama peradaban, Islam masih dapat terus bertahan dan terus berkembang hingga saat ini. Ketika zaman era postmodernisme, Islam menjadi satu-satunya agama yang tumbuh dengan pesat padahal saat itu sekularisme sedang menjangkit daerah Eropa.

Berkaitan dengan sekularisasi yang menjangkit Kristen di Eropa kala itu, karena para pendeta menjauhkan segala yang bertentangan dengan gereja. Gereja melakukan penelitian sedemikian rupa terhadap Ilmu pengetahuan, dan gereja hanya mengakui ilmu pengetahuan yang sesuai dengan konsep kegerejaan. Pendeta mengatakan bahwa itu semua adalah suara Tuhan dan umat kristen harus mengikuti dan melaksanakannya. Hal inilah yang menyebabkan orang-orang eropa mengalami trauma terhadap agama.

Banyak orang barat mengatakan bahwa agama adalah candu dan agama harus terpisah dari ilmu pengetahuan. Mereka menyatakan bahwa “Tuhan telah terbunuh”, Tuhan telah mati”, sehingga manusia seakan-akan luput dari konsep kebenaranya. Padahal, konsep kebenaran sejati adalah wahyu yang turun kepada para rasul dan tersempurnakan dengan wahyu terakhir berupa Al-Quran yang turun kepada Nabi Muhammad Saw. Orang-orang barat lebih memilih konsep humanisme dengan mengedepankan suara manusia sebagai kebenaran, sekalipun itu adalah sebuah keburukan.

Lalu bagaimana dengan Islam? Bagaimanakah Islam memandang itu semua? Benarkah Islam memisahkan aspek ibadah dan ilmu pengetahuan? Bagaimanakah peranan Al-Quran sebagai mukjizat Nabi Muhammad Saw? Sebagai wahyu yang merupakan sumber kebenaran karena merupakan Kalam Tuhan, bagaimanakah pengaruhnya terhadapa ilmu pengetahuan?

Arti secara bahasa, mukjizat yakni melemahkan. Artinya dia yang melemahkan sesuatu di sekitarnya sehingga tidak ada yang dapat menandingi. Secara istilah, mukjizat merupakan kelebihan yang Allah berikan kepada para Rasul-Nya.

Mukjizat juga sebagai identitas para Rasul. Sebagai identitas, maka berbeda pula mukjizat antara para Rasul sesuai dengan tantangan umat kala itu. Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir memiliki Al-Quran sebagai mukjizat beliau. Bahkan menjadi mukjizat terbesarnya di samping Isra Mi’raj dan mukjizat lainnya.

Kemukjizatan di sini bersifat ma’nawi (abstrak), bukan sebagai mukjizat yang bersifat madiy (fisik) seperti menyembuhkan kebutaan dan penyakit lepra, mengubah tongkat menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat, dan lain-lain yang lekas hilang seketika.

Islam Dan Kemukzizatan Al Quran Tentang ilmu Pengetahuan

Bangsa Arab yang merupakan bangsa tempat turunnya Al-Quran sudah mengetahui betul luar biasanya Al-Quran. Di lihat dari segi kebahasaanya layaknya syair yang tidak tertandingi. Bahkan seorang pemuda Arab masa itu yang di anggap warga setempat sangat ahli dalam bersyair, tidak dapat menandingi keindahan bahasa Al-Quran. Padahal Al-Quran di sampaikan oleh seorang manusia yang ummiy (tidak bisa menulis dan membaca). Inilah yang menjadi bukti bahwa Al-Quran tidak terucap begitu saja dari kata-kata manusia, melainkan sebuah Kalam Illahi (wahyu). Namun, banyak pula Bangsa Arab yang mengingkari Al-Quran karena faktor gengsi mereka. Untuk menutupinya, mereka mengatakan bahwa Al-Quran adalah sihir.

Al-Quran sebagai wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad Saw guna menjadi pedoman bagi umat manusia. Di samping keindahannya dalam segi bahasa, ada beberapa hal yang juga di ceritakan dalam Al-Quran, di antaranya bahwa Al-Quran menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi pada umat terdahulu agar kita dapat mengambil pelajaran darinya. dimana di dalamnya mengkisahkan hal hal yang akan berlangsung di masa depan yang tidak akan satupun umat manusia yang mengetahuinya. Kita ini merupakan wahyu yang mengajarkan kepada kita tentang ilmu pengetahuan yang baru terbukti di era modern ini.

Semua orang dengan akal sehatnya, pasti akan berpikir bahwa ini bukanlah kata-kata seorang manusia. Ini adalah wahyu yang langsung turun atas kehendak-Nya.

Hubungan Antara Islam, Al-Quran Dan Ilmu Pengetahuan

Dewasa ini, Islam seakan-akan di pojokan sebagai agama yang kaku terbelakang dan mempunyai landasan pemikiran yang konservatif. Islam di anggap tidak dapat menyesuaikan dengan perkembangan zamat saat ini. Benarkah anggapan demikian? Jawabannya adalah salah. Islam bukan merupakan agama yang hanya mengedapankan aspek ritual dan spiritual. Bukan terfokus terhadap ibadah seorang hamba saja.

Menurut Hasan Al-Banna dalam Kitab Majumu’atu Rasail mengatakan, “Islam adalah sistem yang menyeluruh, yang menyentuh seluruh segi kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu dan peradilan, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran, sebagaimana ia juga adalah aqidah yang lurus dan ibadah yang benar, tidak kurang dan tidak lebih.” Oleh karenanya, Islam tidak terpisahkan dalam aspek keduniaan pula. Sekularisasi saat ini telah mambawa kita perlahan seakan-akan tidak boleh membawa identitas kita sebagai umat Islam.

Kewajiban Umat Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

Islam menuntut umatnya supaya tidak hanya kaya akan pengetahuan agama tapi juga kaya akan pengetahuan dunia. Seorang cendekiawan muslim, Muhammad Abduh (1849–1905 M) mengatakan, “Jika semasa hidup Rasulullah Saw menjelaskan ilmu pengetahuan alam dan astronomi, maka aktivitas penginderaan dan penalaran manusia niscaya akan berakhir sampai di situ, dan manusia akan di manjakan dengan itu semua. Akan tetapi, Rasulullah Saw justru menyarankan agar menggunakan indera dan kecerdasan guna mengkaji segala hal yang bisa meningkatkan kesejahteraan, memperluas pengetahuan, dan memperkaya jiwa. Dengan demikian, pintu untuk menyingkapi ilmu pengetahuan semacam itu adalah kecerdasan dan eksperimen, bukan hadits dan ilmu-ilmu agama.”

Tak heran bila membaca sejarah, banyak sekali di temukan karya-karya saintis muslim yang sangat berpengaruh dalam perkembangan sains dan teknologi. Mereka mempelajari itu semua karena memperdalam kajian tentang Al-Quran yang mengandung ilmu-ilmu pengetahuan.

Maka dari itu, sebagai umat Islam sudah sepatutnya kita untuk mempelajari Al-Quran dan juga mentadaburinya. Al-Quran yang merupakan wahyu dari Allah Swt yang Maha Benar, sudah tentu kandungannya pun pasti benar.

Berbeda dengan pandangan orang sekuler barat yang sudah tidak memiliki standarisasi kebenaran. Mereka mengatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang relatif. Kebenaran hanya bisa di nilai oleh pembuktian secara rasional dan empiris. Suatu kejelekan dan keburukan dapat di terima bila di dapati dengan suara mayoritas. Ini sudah menyalahi dari konsep kebenaran itu sendiri. Sehingga bagi orang muslim, mempelajari segala ilmu pengetahuan dari Al-Quran berarti seseorang telah belajar akan suatu kebenaran.

Al-Quran memerintahkan kita untuk beriman dan berpikir. Semakin seseorang berpikir dan bertambah keilmuannya, sudah seharusnya keimanannya pun akan bertambah bukan sebaliknya menjauhi Tuhannya. Jika iman seseorang sudah kuat, maka amal perbuatannya pun akan mulia dan baik. Oleh karenanya dalam Islam ada trilogi yang tidak dapat di pisahkan yakni iman, ilmu, dan amal.

Peranan Islam dan Al Quran Dalam Membawa Dunia Menuju Peradaban Gemilang

Banyak orang yang mengatakan bahwa membangun peradaban artinya membangun teknologi yang canggih. Memang kerap kali peradaban di identikan dengan sains dan teknologi yang berkembang. Siapa yang menguasai sains dan teknologi, maka dia yang menguasai dunia.

Hal yang memang tidak dapat di nafikan sebagai umat muslim adalah peradaban barat memang peradaban yang sangat maju untuk saat ini. Berbagai macam teknologi bermuculan dari sana. Akan tetapi umat muslim jangan mengambil semua dari barat seakan-akan peradaban barat merupakan standarisasi yang menjadi suatu “keharusan”. Umat muslim harus dapat mengislamisasi peradaban barat dengan teknik ‘adopsi’ dan ‘adaptasi’. Tidak memukul rata semua salah dan tidak menelan mentah semua.

Melihat kondisi umat muslim saat ini, memanglah terbilang miris. Umat muslim terlalu jauh dari agamanya sendiri. Hegemoni sekuler liberal barat terus mengikis perlahan-lahan aqidah umat muslim. Seorang misionaris legendaris Henry Martin, menyatakan, “Saya datang menemui umat islam, tidak dengan senjata tapi dengan kata-kata, tidak dengan pasukan tapi dengan akal sehat, tidak dengan kebencian tapi dengan cinta.” Orang-orang barat mengetahui bahwa dengan perang mereka akan kalah dengan semangat jihad orang-orang muslim yang tak kenal mati tetapi mencari mati. Inilah yang harus kita waspadai dari peradaban barat.

Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Islam

Sebagai umat muslim, konsep sains adalah hal-hal yang berkaitan dengan segala ilmu. Baik sains alam maupun sosial. Sedangkan teknologi adalah alat yang mempermudah umat manusia guna lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sains bukanlah teknologi. Tetapi teknologi adalah implikasi dari sains.

Sains bukan hanya sebatas pada Alam dan teknologi, namun sains sosial juga telah di ajarkan dan tertera dalam Al-Quran. Umat muslim sudah tau bagaimana mengelola politik, sosial, ekonomi dan yang lainnya. Masalah-masalah yang menimpa umat sekarang ini terjadi karena umat Islam mengalami krisis ilmu pengetahuan. Lebih tepatnya malas membaca, mengkaji, dan menulis.

Sudah seharusnya dengan modal Al-Quran sebagai sumber kebenaran dan konsep wahyu Al-Quran yang di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasan-Nya berupa Ilmu pengetahuan, haruslah bisa menjadi modal utama dalam umat islam membangun peradabannya kembali.

Epilog

Tentunya harapan kita semua adalah umat Islam mampu bangkit dengan mengedapankan budaya ilmu yang berlandaskan wahyu (Al-Quran). Membaca, mengkaji, dan menulis haruslah menjadi kebiasaan dan ditanamkan kepada generasi-generasi muda sebagai tonggak masa depan umat. Semoga kita bisa menjadi umat terbaik yang mampu mengemban amanat yang telah Allah pikulkan di pundak kita. Aamiin.

Baca juga : Sejarah dan Perkembangan Islam di Eropa , Dunia Paralel Menurut Islam

Tonton :

Pentingnya Kesabaran dan Manfaat serta konskwensinya Dalam Menjalani Kehidupan Sehari Hari

Apa itu psikologi Kesabaran?


Pentingnya Kesabaran Dalam Menjalani Kehidupan Sehari Hari. Secara psikologis Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap tenang dan tetap punya kendali diri disaat Anda sedang menunggu hasil yang Anda butuhkan. Kesabaran sangat berperan disaat anda mengalami situasi dan kondisi yang sulit dan disaat anda tertimpa suatu kejadian yang membuat hidup anda kacau dan goncang. Menurut penelitian seorang psikolog Sarah Schnitker, kesabaran datang dalam tiga varietas utama: kesabaran interpersonal, kesabaran kesulitan hidup, dan kesabaran kerepotan sehari-hari.

Jenis jenis kesabaran

Kesabaran Antar pribadi

Adalah merupakan Kesabaran interpersonal, yang merupakan kesabaran dengan orang lain, dimana berkaitan dengan tuntutan dan kegagalan mereka.

Anda mungkin menganggap beberapa orang atau bisa jadi anak anda sebagai pembelajar yang lamban, sulit dimengerti, atau bahkan benar-benar tidak masuk akal. Atau, mereka mungkin memiliki kebiasaan buruk yang membuat Anda jengkel. Tetapi kehilangan kesabaran Anda dengan mereka tidak akan bermanfaat, dan itu bisa memperburuk keadaan.

Kesabaran dan pemahaman terhadap orang lain sangat penting ketika Anda berada ditengah keluarga ataupun ditempat kerja.

Jenis kesabaran ini aktif. Keterampilan mendengarkan dan empati sangat penting, dan, ketika Anda berurusan dengan orang-orang sulit , Anda perlu kesadaran diri dan kecerdasan emosional untuk memahami bagaimana kata-kata dan tindakan Anda memengaruhi situasi. Anda tidak bisa hanya menunggu dan berharap yang terbaik.

Kesabaran Kesulitan Hidup

Kesabaran Kesulitan Hidup, kita bisa menggunakan istilah ketekunan untuk menyimpulkan kesabaran hidup. Ini bisa berarti memiliki kesabaran untuk mengatasi kemunduran serius dalam hidup, kesabaran dalam menjalani tekanan dan kekacauan dalam kehidupan rumah tangga seperti menunggu hasil dalam jangka panjang, Tetapi itu juga dapat mencakup kemampuan Anda untuk bekerja menuju tujuan jangka panjang – apakah itu berupa pekerjaan atau karir, atau apakah itu berupa upaya perbaikan hubungan dalam rumah tangga.

Apa pun hambatan yang harus Anda atasi, kemungkinan akan membutuhkan tekad dan fokus untuk mencapai. Dan Anda perlu mengendalikan emosi Anda sepanjang perjalanan. Emosi ini dapat berkisar dari keinginan untuk menyelesaikannya, untuk marah pada frustrasi yang Anda temui di sepanjang jalan – yang dapat menyebabkan Anda menjadi terdemotivasi.

Kesulitan Kesulitan Harian

Kesulitan Kesulitan Harian,
Terkadang Anda membutuhkan kesabaran untuk menghadapi keadaan yang berada di luar kendali Anda. Ini adalah “kerepotan hidup” Anda. Sesuatu yang sepele seperti terjebak dalam rutinitas mengurus buah hati anda misalnya, atau dalam membimbing anak anda yang berkebutuhan khusus.

Anda juga perlu kesabaran untuk menyelesaikan tugas-tugas sehari-hari yang membosankan tetapi tidak terhindarkan yang tidak selalu berkontribusi pada tujuan pribadi Anda. Kemampuan mempertahankan disiplin diri , dan memberikan pekerjaan – tidak peduli seberapa biasa – perhatian terhadap detail yang dibutuhkannya, adalah ciri khas kesabaran.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi frustrasi kecil dan konstan ini lebih cenderung lebih empatik, lebih adil, dan lebih sedikit menderita dari depresi.

Manfaat dan Konskwensi Bersikap Sabar

Secara umum, bersabar berarti kemungkinan besar Anda dipandang secara positif oleh rekan kerja, oleh anak maupun anggota keluarga anda, oleh teman teman dan lingkungan sosial maupun lingkungan profesi anda.

Jika Anda sering tidak sabar, orang mungkin melihat Anda sombong, tidak sensitif dan impulsif. Rekan kerja mungkin berpikir bahwa Anda adalah pembuat keputusan yang buruk, karena Anda membuat penilaian cepat atau mengganggu orang. Jika Anda mendapatkan reputasi karena memiliki keterampilan orang miskin dan temperamen yang buruk, orang lain bahkan mungkin dengan sengaja menghindari bekerja dengan Anda. Akibatnya, tidak mengherankan, orang yang tidak sabar tidak akan menjadi yang teratas dalam daftar untuk promosi.

Tentu saja, bersabar bukan berarti Anda harus menjadi “penurut.” Jauh dari itu. Terkadang tidak masalah untuk menunjukkan ketidaksenangan Anda ketika orang-orang membuat Anda menunggu dengan tidak perlu. Jadi, pastikan Anda menetapkan batasan yang kuat . Tapi, pastikan Anda sopan dan tegas , tidak pernah marah dan agresif.

Kunci dari semuanya adalah kesabaran. Anda mendapatkan ayam dengan menetaskan telur, bukan dengan menghancurkannya.


  • Ketidaksabaran berakar pada frustrasi. Ini adalah perasaan stres yang meningkat yang dimulai ketika Anda merasa bahwa kebutuhan dan keinginan Anda diabaikan. Dalam lingkungan modern di mana kita terbiasa dengan komunikasi instan dan akses langsung ke data, itu adalah masalah yang berkembang. Tetapi mengenali tanda-tanda peringatan dapat membantu Anda mencegah ketidaksabaran terjadi.

Gejala Ketidaksabaran


Ketidaksabaran memiliki berbagai gejala. Tanda-tanda fisik dapat termasuk dangkalnya cara berfikir, pernapasan cepat, ketegangan otot, dan tangan mengepal. Atau Anda mungkin mendapati diri Anda gelisah dengan gelisah.

Mungkin ada perubahan dalam suasana hati dan pikiran Anda juga. Anda mungkin menjadi mudah tersinggung, marah, atau mengalami kecemasan atau gugup. Bergegas untuk melakukan sesuatu dan membuat keputusan cepat – gejala penyakit terburu – buru – adalah tanda-tanda yang jelas bahwa ketidaksabaran Anda sedang berada di atas angin.

Hal hal Yang memicu Ketidaksabaran


Jika Anda mengalami perasaan dan gejala ini, cobalah untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkannya. Banyak dari kita memiliki “pemicu” untuk ketidaksabaran. Ini bisa berupa orang, kata, atau situasi tertentu.

Buatlah daftar hal-hal yang menyebabkan Anda menjadi tidak sabar. Jika Anda kesulitan mengidentifikasi pemicu Anda, berhentilah dan pikirkan kapan terakhir kali Anda merasakan hal ini. Apa penyebabnya?

Jika Anda tidak yakin, tanyakan rekan kerja Anda (atau teman dan keluarga Anda) tentang ketidaksabaran Anda. Kemungkinannya, mereka tahu apa yang membuat Anda “terluka dan menjadi tidak sabar”.

Cobalah membuat jurnal untuk merekam ketika Anda mulai merasa tidak sabar. Tuliskan detail situasinya, dan mengapa Anda merasa frustrasi. Ini dapat membantu Anda untuk memeriksa tindakan Anda dan memahami mengapa Anda merespons dengan cara ini.

Anda tidak akan selalu bisa menghindari pemicu yang membuat Anda tidak sabar. Tetapi Anda bisa belajar mengelola reaksi Anda terhadap hal tersebut.#

Baca Juga:

Religiseni

Arti sukses menurut Islam

Imigran Muslim Eropa dari fase Kedatangan sampai Adaptasi

Imigran Muslim Eropa dari fase Kedatangan sampai Adaptasi. Kita tahu Eropa mempunyai sejarah migrasi tertua. Jangka waktu ini dapat terbagi menjadi empat periode .

Imigran Muslim Menuju ke Pemisahan

Periode pertama tanggal kembali ke tahun 1960 – an. Sekarang jauh dan paruh pertama tahun 1970-an , ketika Eropa membutuhkan tenaga kerja dan imigran Muslim bertemu dengan sambutan positif. Namun, periode ini kurang ideal, karena reaksi-reaksi yang merugikan sudah mewujud. Adanya ketakutan — yang berulang dengan setiap gelombang migrasi — bahwa para imigran mengambil pekerjaan dari penduduk asli. Dalam kasus Prancis, imigrasi Muslim terjadi dengan latar belakang dampak perang Aljazair. Kita bisa bicara tentang masa masa bahagia. Namun demikian, karena imigran Muslim tersosialisasikan terlebih dahulu ke modernitas Barat yang mereka cita-citakan. Mereka tidak mendefinisikan diri mereka sendiri berdasarkan afiliasi keagamaan mereka. Sebagai contoh, Muslim yang saya kenal antara akhir 1960-an dan awal 1970-an. Mereka tidak menggambarkan diri mereka sebagai Muslim tetapi, lebih tepatnya, Maroko, Turki, Rifian, dll.

Imigran Muslim bermigrasi

Pada tahap ini (berjalan dari akhir 1970-an hingga pertengahan 1990-an ). Fase yang saya sebut sebagai ” periode kesulitan ”. Dengan kata lain, masalah pertama mulai muncul tetapi perkiraan akan terselesaikan seiring waktu, seperti yang terjadi pada proses migrasi lainnya . Konteksnya menjadi rumit oleh krisis minyak tahun 1973 dan 1978 dan kemudian oleh gelombang migrasi yang langsung harus memperhitungkan pengangguran . Ini merupakan periode populasi Muslim mulai masuk dalam tatanan sosial negara-negara Eropa. Pada saat yang sama, ini merupakan awal dari ” kebangkitan Islam “.. ” Khomeini merebut kekuasaan di Iran Syiah pada 1979 tetapi dunia Sunni juga dalam kekacauan.

Fase Kedua Kebangkitan Imigran Eropa

Kebangkitan adalah sesuatu yang umum bagi negara-negara tertentu. Di Arab Saudi, Raja Faisal (memerintah tahun 1964–1975) memberlakukan proyek yang telah ia kerjakan pada awal 1960-an. Saat ketika ia masih seorang pangeran: untuk menjadikan kerajaan itu hegemon dunia Muslim melalui penyebaran doktrin Wahhabi. Peran negara-negara lain, seperti Libya dan Pakistan Gaddafi, juga penting. Selama fase ini, kebebasan bertindak yang lebih besar terbuka bagi gerakan dan organisasi yang sebelumnya telah termentahkan atau bahkan terlarang.

Pergeseran ini berdampak pada situasi imigran Muslim. Saya melihat melakukan mobilisasi untuk pembangunan ruang shalat dan kemudian masjid asli untuk ibadah dan pengajaran Alquran. Mereka tahu bahwa mereka tidak akan pernah kembali ke negara asal mereka. Merasa harus menyerahkan kepada anak-anak mereka sesuatu yang mereka anggap lebih sentral sebagai warisan Islam . Bentuk radikalisme dan jihadisme pertama juga muncul. Meskipun ini masih terkait dengan gerakan aktif di negara asal mereka (contoh khasnya adalah dukungan untuk Kelompok Islam Bersenjata dalam perang saudara Aljazair).

Pada saat itu, fenomena ini adalah ekspresi sisa dari minoritas terbatas dan bahwa kesulitan akan menyelesaikan secara alami. Lebih khusus lagi, bahwa itu adalah masalah generasi . Tulisan ini selanjutnya terdukung oleh dua perspektif untuk menafsirkan kehadiran Islam di Eropa yang multikulturalis dan yang interkulturalis. Menurut yang pertama, Islam adalah budaya seperti yang lain. Menurut visi interkulturalis, masalah akan terbatasi dengan menerapkan logika komunikasi antar budaya. Pendekatan-pendekatan ini (yang multikulturalis, khususnya) terkreditkan dengan menyebut Eurosentrisme monolitik . Namun mereka tidak mengizinkan (dan tidak akan mengizinkan) orang untuk memikirkan atau menangani pertemuan dengan dunia Muslim secara tepat.

Fase Ketiga, Fase Adaptasi para Imigran Muslim di Eropa

Periode ketiga adalah salah satu adaptasi gelisah dan masalah yang belum terselesaikan mulai menuju spiral ke bawah. Ini adalah tahun-tahun yang membentang dari 1995 hingga 2011-2012 . Jadi saya tidak menafsirkan 11 September sebagai istirahat radikal. Saya melihatnya, lebih tepatnya, sebagai epifenomen dari suatu proses yang sudah berjalan. Selama fase ini, masalah pelik yang sudah muncul menjadi semakin penting. Konteks sosial-ekonomi terus menjadi masalah. Dari sudut pandang ini, tidak salah untuk menjelaskan radikalisme Islam melalui variabel ekonomi, karena semuanya tidak mutlak benar. Satu generasi Muslim berhasil. Da sekarang kami telah mencapai generasi ketiga dan terdiri dari warga negara Eropa sepenuhnya, bukan “anak-anak imigran.”

“Kembalinya Islam” sepenuhnya bermula dalam periode ini. Inilah sebabnya, sejak awal, saya mendapati diri saya tidak setuju [2] dengan rekan-rekan saya Gilles Kepel dan Olivier Roy, yang berbicara tentang “penurunan Islamisme” [3] atau “kegagalan Islam politik.” [4] Saya, di sisi lain, selalu berdebat apa yang telah saya amati yaitu kemenangan Islam politik.

Perubahan Nama Imigran dari Wahabisme menjadi Salafisme

Salah satu faktor penentu dalam kisah sukses ini adalah perubahan nama Wahhabisme dan mulai menyebut dirinya sebagai Salafisme . Dengan demikian ia tidak lagi menjadi doktrin minoritas yang terbatas pada Semenanjung Arab. Karena telah menjadi “universal,” mengubah dirinya menjadi visi hegemonik Islam. Sejak 1990-an dan seterusnya, visi ini menyebar di Eropa juga. Dan sangat menyosialisasikan terutama generasi muda (kedua dan ketiga)melalui kebijakan cerdas produksi elit intelektual. Terdorong oleh rezim Saudi, penyebaran tersebut bisa dicapai. Khususnya, melalui pendirian universitas-universitas baru dan restrukturisasi pendidikan Islam yang lebih tinggi di sepanjang model kemajuan bersertifikat (master, doktor, dll).

Selanjutnya, bagian universitas yang didedikasikan untuk non-Arabophones dibuat. Dan dengan beasiswa untuk siswa Eropa dan Asia yang pergi untuk belajar di negara-negara Arab. Sejak pertengahan 1990-an dan seterusnya, para siswa ini harus kembali ke negara asal mereka dan menjadi pemimpin pada gilirannya. Ini untuk berkontribusi menghasilkan Salafisme yang telah disebut pendiam(dalam arti bahwa itu mengklaim tidak menjadi kekerasan atau jihadis) tetapi yang memiliki dimensi normatif dan ritual yang sangat kuat.

Mundurnya visi visi Islam oleh para Pemimpin

Dalam menghadapi fenomena ini, ada kemunduran yang dapat diamati dalam visi-visi Islam yang lain dan pada masing-masing pemimpin, yang tidak dapat membanggakan pendidikan yang terstruktur sama dan tidak mampu bersaing dengan aktivisme Salafi.

Yang terakhir, karena saya dapat mengamati secara pribadi ketika saya memulai penelitian saya di Brussels, [5]sebenarnya sangat terlibat di berbagai distrik dan di taman-taman di mana obat-obatan didorong: singkatnya, mereka benar-benar militan. Efek dari pertumbuhan ini akan terlihat setelah tahun 2000-an, ketika pemuda Muslim mulai menjauhkan diri dari konteks sosial yang dianggap tidak murni.

Proses yang sama akan terjadi di sekolah-sekolah, di mana para guru yang menjelaskan teori evolusi atau yang mengajar bahasa Prancis dengan membuat para siswa mereka mendengarkan lagu-lagu mendapati diri mereka menghadapi murid-murid yang mendukung doktrin-doktrin fixis tentang penciptaan atau menurut siapa dilarang mendengarkan musik.

Dalam konteks baru ini, alam semesta religius Muslim mengalami semacam perubahan ke dalam dan hubungan antara Muslim muda dan non-Muslim menjadi semakin sulit.. Sekolah berusaha untuk mencegah isolasi ini sebanyak mungkin tetapi tidak bisa berbuat banyak dalam kasus-kasus di mana konsentrasi demografis yang kuat menghasilkan ruang kelas siswa yang hampir semuanya Muslim. Dalam hal ini, apa yang terjadi di klub olahraga Brussels adalah simbol: proses pemisahan ini semakin mempersulit mereka untuk membentuk tim campuran Muslim dan non-Muslim.

Di samping Salafisme, ada juga visi politik Islam yang saling berdampingan . Ini menarik jumlah yang lebih kecil, karena Muslim muda, seperti semua orang muda, tidak terlalu terpolitisasi. Namun, keduanya sama-sama berpengaruh, terutama berkat keberhasilan yang mereka raih di negara-negara tertentu. Mereka telah terbukti menentukan untuk membangun identitas sosial-politik Muslim, yang karenanya tidak cukup untuk bangga dengan afiliasi agama seseorang karena seseorang juga harus memiliki kekuatan untuk membangun komunitas politik dan membuat tuntutan atas nama Islam. Bukan kebetulan bahwa, selama tahun-tahun yang sama ini, Malcolm X menjadi titik acuan bagi kaum muda dan ikon kepemimpinan yang menolak dan menolak membiarkan dirinya diintegrasikan.

Melampaui Perang Melawan Terorisme

Melampaui Perang Melawan Terorisme

11 September adalah puncak dari perkembangan ini dan, pada saat yang sama, dari siklus kekerasan yang dimulai dengan munculnya doktrin dan fenomena jihadis pada awal 1970-an dan generalisasi mereka dalam jihad Afghanistan. Dalam konteks Eropa, kecenderungan pemisahan Muslim dari non-Muslim membuka jalan bagi konflik yang semakin tajam. Perselisihan menjadi lebih panas dan di Eropa ada kehadiran yang semakin besar dari kedua kelompok yang menentang apa yang mereka anggap sebagai “Islamisasi Benua”. Partai-partai nasionalis atau regionalis yang menemukan raison d’etre dan konsensus pemilihan mereka dalam menentang globalisasi, Islam. dan proyek Eropa.

Di pihak Muslim, para pemimpin yang memegang posisi kekuasaan di masjid-masjid dan berbagai organisasi tidak tahu harus berkata apa tentang masa depan umat Islam di Eropa atau tentang terorisme. Pada akhir 2005, seorang pengkhotbah di sebuah masjid di Brussels yang mengumpulkan sekitar 2.000 orang percaya setiap hari Jumat masih mengundang warga negara Muslim Belgia untuk tidak pergi ke tempat pemungutan suara agar tidak berkontribusi pada pemilihan pemerintahan kāfir (tidak percaya).

Episode Penting Imigran Muslim Eropa

Episode penting lainnya kembali ke tiga minggu setelah serangan di Brussels pada 22 Maret 2016, ketika berbagai asosiasi (termasuk beberapa yang Muslim) telah mengadakan pawai besar di ibukota Belgia. Demonstrasi akan berangkat dari dua titik simbolis, Gare du Norddan Molenbeek, kawasan Brussel yang menjadi sangat terkenal setelah serangan tahun 2015 dan 2016.

Saya pergi ke Molenbeek, rumah bagi populasi Muslim yang cukup besar (ada 18 masjid di wilayah itu). Saya mengharapkan para imam berada di garis depan tetapi tidak ada seorang pun. Dan jumlah Muslim dari Molenbeek sangat sedikit. Jihadisme menikmati konsensus yang luas meskipun ada semacam keragu-raguan tentang hal itu dan saya pikir ini perlu analisis yang lebih dalam.

Tahun 2000 merupakan dengan investasi besar dalam perang melawan terorisme . Ini adalah respon yang sangat penting. Namun, hal itu juga bersamaan dengan penyimpangan tragis yang berasal dari aksi bersenjata, khususnya dalam perang Irak yang terjadi pada tahun 2003 oleh koalisi Anglo-Amerika dengan pimpinan GW Bush dan Tony Blair, di mana hampir semua sekutu mereka berpartisipasi, Kecuali Perancis dan Belgia.

Langkah-langkah keamanan belum cukup untuk mengubah mentalitas, apalagi. Pada tahun 2002, pada saat perang Afghanistan, saya ingat menulis sebuah artikel berjudul “Melawan Radikalisme, Ya, tetapi Setelahnya?” untuk koran Belgia. Masalahnya adalah bahwa belum ada “sesudahnya.”Kami membatasi diri pada jenis respons ini, yang perlu tetapi tidak cukup. Di sisi lain, dinamika budaya dan sosial yang mengganggu hubungan antara populasi dan negara terus terabaikan.

perkirakan bahwa proses spontan atau gerakan demonstratif sudah cukup untuk membuat berbagai hal berevolusi ke arah yang positif. Namun, dalam konteks saat ini, proses spontan menumbuhkan bentuk-bentuk ekstremisme, baik dari kalangan Muslim maupun non-Muslim. Dengan kata lain, orang-orang belum menyadari kenyataan bahwa kita sedang menghadapi pertemuan yang kompleks antara dua peradaban, yang masing-masing hidup dalam situasi krisis tertentu. [6]

Musim Semi Arab: Titik Balik Tragis

Setelah khayalan tentang Musim Semi Arab. Bagian dari dunia Muslim dan beberapa negara Eropa dan non-Eropa menemukan diri mereka menghadapi kenyataan tragis. Terorisme dan fakta bahwa sektor-sektor penting pemuda Muslim (anak laki-laki, tetapi juga perempuan) merangkul jihad . Timur Tengah dan dunia Arab pada umumnya keluar dari Musim Semi Arab yang tidak stabil, jika tidak hancur. Peristiwa ini membuka fase baru (keempat), yang melibatkan masa depan Islam dan hubungan antara dunia Muslim dan Barat.

Serangan pada tahun 2015-2017 merupakan trauma bagi warga negara dan institusi Eropa. Sementara itu merupakan anugerah bagi kelompok dan pihak yang menentang Islam. Namun, mereka juga mengejutkan umat Islam yang mereka telah mulai menyatakan diri. Dan mereka lebih terbuka terhadap radikalisme kekerasan yang terkait dengan Islam.

Dengan emosi yang mengikutinya, Muslim dan non-Muslim menghubungkan senjata dalam kutukan bersama para ekstremis dan untuk menunjukkan komitmen bersama mereka. Inisiatif dialog berlipat ganda, bentuk diplomasi agama dan spiritual menjadi aktif dan kolaborasi militer dalam perang melawan terorisme terjadi. Munculnya tokoh seperti Muhammad bin Salman ke kepemimpinan negara Saudi dan prospek jenis pembukaan tertentu memicu harapan perubahan. Namun, masa depan Islam terkait dengan rezim ini atau bagi mereka di negara lain masih belum pasti. Seperti halnya masa depan radikalisme.

Peran Kepolisian dan Lembaga Peradilan Terhadap Imigran Muslim

Aparat kepolisian dan lembaga peradilan telah membuat kemajuan besar . Bagi saya, tampaknya, baik Muslim maupun non-Muslim belum menganggap serius tantangan sosial dan budaya yang sedang menunggu kita. Terutama dalam hal generasi Muslim yang lebih muda dan Muslim yang baru saja mencari perlindungan di Eropa. Lebih jauh lagi, dalam konteks emigrasi, saya dapat merasakan interiorisasi penarikan ke dalam “neo-Salafisme”.

Masalah ini terkait dengan kelemahan kepemimpinan Muslim di Eropa (terlepas dari beberapa tokoh yang terisolasi). Selama lebih dari satu dasawarsa saya telah menyatakan bahwa bukan pembangunan masjid yang paling urgen, melainkan pembentukan pikiran. Artinya, ada kebutuhan untuk mendorong munculnya kepemimpinan Muslim yang terlatih dan matang. Ini adalah usaha yang sangat kompleks yang membutuhkan waktu. Mempertimbangkan dinamika konflik saat ini dalam Sunni, membuat Fakultas Teologi Islam sekarang, dalam jangka waktu yang singkat, tidak terpikirkan.

Merebaknya Sentimen Anti Imigran Muslim di Eropa

Lebih jauh, semakin populernya partai-partai nasionalis anti-Muslim dan anti-imigran di masyarakat-masyarakat Eropa membantu meningkatkan perasaan permusuhan yang sama di antara umat Muslim. Hubungan timbal balik terus berlangsung seperti yang terjadi pada awal 2000-an dan terlebih lagi mengingat bahwa memerlukan klarifikasi dan analisis mendalam untuk keluar dari perselisihan sedang berjuang untuk membuat kemajuan. Ketika semuanya berjalan dengan baik, semacam netralitas pasif terbentuk: yang menghindari debat dasar tentang tema sentral. Jika kita ingin mengatasi keadaan ini, tidak cukup untuk mendorong dialog antaragama.

Agaknya, perlu untuk merenungkan apa artinya, saat ini, untuk menjadi warga negara dan tempat agama di ruang publik. Untuk melakukan ini, penting untuk menyetujui untuk mempertanyakan nilai “jelas” masing-masing, sehingga menciptakan kondisi (saat ini kurang) untuk diskusi yang tenang. Namun, jika tidak ada ruang di Eropa untuk refleksi mendalam tentang hubungan antara Islam dan modernitas, sangat tidak mungkin ada ruang untuk itu di tempat lain.

Peran Orang Kristen

Saya ingin mengakhiri dengan pengamatan tentang peran orang Kristen . Saya mengatakan ini, mengenakan topi sosiolog saya, karena pengalaman yang saya kembangkan selama beberapa tahun terakhir. Dalam semangat yang berusaha untuk memprovokasi perdebatan daripada perselisihan dan bekerja dalam kerangka penelitian tentang hubungan antara Muslim dan non-Muslim yang dilakukan di Pusat Interdisciplinaire d’Études sur l’Islam dans le Monde Contemporain (CISMOC – Pusat Interdisipliner Penelitian tentang Islam di Dunia Kontemporer) [7], kami menyelenggarakan serangkaian lokakarya yang melibatkan antara lima belas dan dua puluh orang. Para peserta termasuk Muslim dari berbagai kecenderungan (Sufi, Salafi dan radikal), Kristen, agnostik, ateis dan sekuler militan yang semuanya dipanggil untuk membahas berbagai tema mulai dari kerudung hingga hubungan mereka dengan politik.

Pada kesempatan-kesempatan ini, saya dapat mengamati bahwa lawan bicara yang berhasil membawa kedalaman debat yang lebih dalam adalah orang-orang Katolik yang lebih solid, yang mungkin juga memiliki semacam komitmen politik di belakang mereka. Yang lain (baik Muslim maupun non-Muslim) lebih banyak berjuang dan berakhir dalam bentrokan langsung. Kenapa ini? Karena orang-orang Kristen yang lebih berkomitmen telah memahami, mulai dari kisah pribadi mereka sendiri, apa artinya menjadi orang percaya di negara sekuler dan masyarakat sekuler. Mereka sudah memperhitungkan masalah ini. Saya percaya bahwa ini adalah jenis diskusi yang kita butuhkan.#

Tonton: Info Islam Di Inggris