admin, Pengarang di Religiseni - Page 15 of 20

Sains Arab ataukah Sains Islam perbedaan antara keduanya?

Ada kecenderungan di antara beberapa penulis modern, termasuk Abdulhamid Sabra dan Muhsin Mahdi, untuk menggambarkan sains Islam sebagai sains Arab’. Seseorang seharusnya tidak melampirkan arti khusus apa pun pada deskripsi baru tentang subjek lama ini. Apakah ini hanya masalah terminologi dan tidak ada yang lain? Apa sebenarnya Ilmu Bahasa Arab itu?

Perpustakaan Islam dan sejarah berdirinya

Dalam Sejarah perpustakaan Islam, Seperti halnya peristiwa politik tertentu yang menciptakan permusuhan antar negara yang berakhir dengan kerja sama, demikian pula dalam sejarah manusia peristiwa politik besar memiliki konsekuensi intelektual jangka panjang

Sains Islam dan Kronologi awal mulanya

Al-Qur’an petunjuk dan sumber informasi Sejarah, bagi pengetahuan manusia. Kelahiran Islam menandai lahirnya intelek induktif. Karena itu bisa dikatakan bahwa sains Islam menjembatani ilmu pengetahuan dunia kuno dan dunia modern.

Sains dan Al Quran menurut Orientalis Barat Maurice Bucaille

Sains dan Al Quran juga Bible telah di teliti oleh seorang sarjana Prancis, Maurice Bucaille. Bucaille, menyampaikan fakta bahwa Yudaisme, Kristen dan Islam adalah agama Ibrahim. Selanjutnya secara khusus dia membuat kesimpulan tentang Bible dan Al Quran sebagai berikut.

Ilmuwan Muslim dan Sejarah Penemuannya

Ilmuwan Muslim telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Misalnya, buku Ibn Sina “Al-Qanun” dianggap sebagai dasar kedokteran tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga di Eropa. Bukti terbaiknya adalah bahwa buku ini telah menjadi alat pengajaran di universitas-universitas Eropa selama 600 tahun.

Agama Islam Adalah agama yang Rasional

Islam Adalah agama yang Rasional. Hal ini mulai terbentuk di kalangan cendekiawan Muslim setelah penyebaran Islam terkait dengan tafsir Al-Qur’an (tafsir); Tradisi (Hadis) dan Asma’ al-Rijal (biografi ulama Hadis), Sirah (Biografi (Nabi) dan Maghazi (Pertempuran Nabi); Usul al-Din (teologi), Fiqh (fikih) dan Usul al-Fiqh (metodologi/prinsip-prinsip Fikih). Bahasa Arab di klasifikasikan oleh Ibn Khaldun sebagai bahasa … Read more…

Islam mengedepankan keutamaan menuntut ilmu

Islam mengedepankan keutamaan menuntut ilmu. Pertanyaan yang kini muncul adalah: ‘Apa relevansi Al-Qur’an dan Hadits dengan ilmu pengetahuan Islam?’ Pada awalnya, segala sesuatu yang Islami di pengaruhi oleh dua sumber ini. Proses belajar orang Arab di mulai dengan Al-Qur’an dan yang lainnya mengikutinya. Nabi memberi tahu para sahabatnya: “Hikmah adalah objek bagi orang-orang yang beriman” . Jadi Nabi Muhammad menciptakan insentif untuk mengejar semua jenis pengetahuan, termasuk sains dan filsafat.

Pertanyaan-pertanyaan yang harus kita ajukan dan yang harus kita temukan jawabannya adalah: ‘Apakah Islam mendorong atau melumpuhkan ilmu pengetahuan dalam arti luas dan ilmu-ilmu sekuler pada khususnya? Apakah ada konflik antara akal (‘aql) dan wahyu (wahy) dalam Islam?’ Apakah Islam benar benar mengedepankan keutamaan menuntut ilmu?

Istilah Arab ‘ilm secara harfiah berarti ilmu dan pengetahuan dalam arti luas. Ini berasal dari kata kerja Arab ‘alima, untuk mengetahui, untuk belajar. Oleh karena itu, ‘ilm menyiratkan belajar dalam arti umum. Nabi Muhammad, seperti semua Nabi Semit sebelum dia, adalah seorang pendidik dan mentor spiritual. Dia berpendapat tentang keutamaan menuntut ilmu (‘ilm) adalah kewajiban (fardh) bagi setiap Muslim. Pernyataan ini tidak salah lagi menempatkan prioritas tertinggi untuk pengetahuan dan mendorong umat Islam untuk dididik.

Keutamaan menuntut ilmu adalah lebih baik dari Ibadah ritual secara umum

Pernyataan lain memuji ilmu agama bahkan lebih tinggi, mempertahankan bahwa itu adalah kunci berbagai manfaat dan berkah dan bahwa mereka yang mengajarkan Al-Qur’an dan Hadits mewarisi peran para nabi kuno. Dalam pernyataan terpisah, Muhammad mengatakan bahwa para ulama (‘ulama’) adalah wali para Rasul (Allah) (umana’ al-Rusul). Dalam memuji ilmu, Nabi juga bersabda bahwa menuntut ilmu lebih utama dari shalat (Shalat), puasa (selama Ramadhan), haji (haji) dan perjuangan Islam (Jihad) dalam mempromosikan jalan Allah .

Hadits Hadits tetang keutamaan menuntut Ilmu

Pertama, di berikan derajat yang tinggi di sisi Allah Swt.

Quran Surat Al-Mujadilah Ayat 11

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Yā ayyuhallażīna āmanū iżā qīla lakum tafassaḥụ fil-majālisi fafsaḥụ yafsaḥillāhu lakum, wa iżā qīlansyuzụ fansyuzụ yarfa’illāhullażīna āmanụ mingkum wallażīna ụtul-‘ilma darajāt, wallāhu bimā ta’malụna khabīr

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila di katakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila di katakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. alMujadillah/58:11)

Kedua, di berikan pahala yang besar di hari kiamat nanti.

Dari Anas bin Malik ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Penuntut ilmu adalah penuntut rahmat, dan penuntut ilmu adalah pilar Islam dan akan di berikan pahalanya bersama para nabi.” (H.R. ad-Dailami)

Ketiga, merupakan sedekah yang paling utama.

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah jika seorang muslim mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim.” (H.R. Ibnu Majah)

Keempat, lebih utama daripada seorang ahli ibadah.

Dari Ali bin Abi Talib ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang alim yang dapat mengambil manfaat dari ilmunya, lebih baik dari seribu orang ahli ibadah.” (H.R. ad-Dailami)

Kelima, lebih utama dari śalat seribu raka’at.

Dari Abu Żarr, Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Aba ªarr, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah telah baik bagimu daripada śalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik di laksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada śalat seribu rakaat.” (H.R. Ibnu Majah)

Keenam, di berikan pahala seperti pahala orang yang sedang berjihad di jalan AllahSwt.

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Bepergian ketika pagi dan sore guna menuntut ilmu adalah lebih utama daripada berjihad fi sabilillah.” (H.R. ad-Dailami)

Ketujuh, di naungi oleh malaikat pembawa rahmat dan di mudahkan menuju surga.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah sekumpulan orang yang berkumpul di suatu rumah dari rumah-rumah (masjid) Allah ‘Azza wa Jalla, mereka mempelajari kitab Allah dan mengkaji di antara mereka, melainkan malaikat mengelilingi dan menyelubungi mereka dengan rahmat, dan Allah menyebut mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya. Dan tidaklah seorang meniti suatu jalan untuk menuntut ilmu melainkan Allah memudahkan jalan baginya menuju surga.” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Tradisi terakhir ini sering di salahartikan oleh sebagian umat Islam yang berpikir (secara keliru) bahwa belajar agama dan menuntut ilmu membebaskan mereka dari shalat, puasa, haji dan jihad. Ini sama sekali bukan maksud dari pernyataan itu. Yang di tekankan adalah bahwa pendidikan agama tidak kalah pentingnya dengan waktu dan usaha yang di curahkan untuk Sholat, Sawm, Haji dan Jihad. Dengan demikian, belajar mendapat prioritas di atas tugas-tugas biasa orang percaya.

Menuntut Ilmu dan Pengetahuan adalah Ibadah

Keutamaan menuntut ilmu

Konsep sains dan pengetahuan juga tersebar luas dalam Hadis Nabi dan dalam surat-surat belles (adab) Arab. Hal itu hanya membuktikan bahwa Islam mengilhami pemeluknya untuk memikirkan ilmu atau pengetahuan tidak hanya untuk nilai spiritual dan utilitariannya, tetapi juga sebagai amal ibadah. Beberapa ucapan yang di kaitkan dengan Nabi Muhammad mengangkat pencarian pengetahuan sebagai tindakan ibadah. Wacana pengetahuan dalam sumber-sumber bahasa Arab seringkali menggunakan dua istilah, ‘ilm dan ‘aql. Yang pertama berlaku untuk pengetahuan suci serta ilmu profan, dan ‘aql berkonotasi intelek atau kecerdasan.

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Baca Juga:

Sejarah ilmu pengetahuan Islam

Ujian hidup adalah Parameter Tingkat keimanan

Ujian Hidup Pada dasarnya merupakan sesuatu yang begitu akrab dengan kehidupan kita. Adakah orang yang tidak pernah mendapatkan musibah? Tentu tak ada. la adalah sunnatullah yang berlaku atas para hamba-Nya. la bukan berlaku pada orang-orang yang lalai dan jauh dari nilai-nilai agama saja. Namun ia juga menimpa orang-orang mukmin dan orang-orang yang bertakwa. Bahkan, semakin tinggi kedudukan seorang hamba di sisi Allah; maka semakin berat ujian dan cobaan yang di berikan Allah Subhaanahu wata’aala kepadanya. Karena Dia akan menguji keimanan dan ketabahan hamba yang di cintai Nya.

Sebagai contoh, bangsa kita tercinta sekarang ini sedang di rundung dan di dera dengan berbagai ujian ;mulai dari gelombang tsunami, lumpur lapindo, gunung meletus, flu burung, busung lapar; gizi buruk, harga melonjak di tambah seabreg permasalahan nasional yang tak kunjung teratasi; akan tetapi sayangnya sedikit yang bisa mengambil hikmah dari ujian yang sedang kita derita. Ujian yang semestinya mendongkrak kualitas keimanan dan mengantar pada keberkahan temyata sering membawa kepada murka Allah. Tak lain karena orang yang terkena musibah tak mampu bersikap benar saat menghadapinya.

Sesungguhnya di balik ujian atau musibah itu terdapat hikmah dan pelajaran yang banyak bagi mereka yang bersabar; dan menyerahkan semuanya kepada Allah Subhaanahu wata’aala yang telah mentakdirkan itu semua untuk hamba-Nya; di antara hikmah yang bisa kita petik antara lain adalah:

Ujian hidup dalam bentuk Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiata.

Ujian hidup dalam bentuk Musibah akan mendidik jiwa dan menyucikannya dari dosa dan kemaksiatan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَآأَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَن كَثِيرٍ – الشورى: 30

artinya, “Apa saja musibah yang menimpa kamu maka di sebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri; dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS asy Syura: 30)

Dalam ayat ini terdapat kabar gembira sekaligus ancaman; jika kita mengetahui bahwa musibah yang kita alami adalah merupakan hukuman atas dosa-dosa kita. Di riwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda; “Tidak ada penyakit; kesedihan dan bahaya yang menimpa seorang mukmin hinggga duri yang menusuknya melain-kan Allah akan mengampuni kesalahan-kesalahannya dengan semua itu.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain beliau bersabda; “Cobaan senantiasa akan menimpa seorang mukmin, keluarga, harta dan anaknya hingga dia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.”

Sebagian ulama salaf berkata. “Kalau bukan karena musibah-musibah yang kita alami di dunia, niscaya kita akan datang di hari kiamat dalam keadaan pailit.”

Ujian Hidup adalah harga untuk Mendapatkan kebahagiaan (pahala) tak terhingga di akhirat.

Itu merupakan balasan dari musibah yang di derita oleh seorang hamba sewaktu di dunia; sebab kegetiran hidup yang di rasakan seorang hamba ketika di dunia akan berubah menjadi kenikmatan di akhirat dan sebaliknya. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.”

Dan dalam hadits lain di sebutkan, “Kematian adalah hiburan bagi orang beriman.” (HR .Ibnu Abi ad Dunya dengan sanad hasan).

Ujian hidup merupakan parameter kesabaran seorang hamba.

Sebagaimana di tuturkan, bahwa seandainya tidak ada ujian maka tidak akan tampak keutamaan sabar. Apabila ada kesabaran maka akan muncul segala macam kebaikan yang menyertainya; namun jika tidak ada kesabaran maka akan lenyap pula kebaikan itu.

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan sebuah hadits secara marfu’, “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya cobaan. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan mengujinya dengan cobaan. Barang siapa yang ridha atas cobaan tersebut; maka dia mendapat keridhaan Allah dan barang siapa yang berkeluh kesah (marah) maka ia akan mendapat murka Allah.”

Apabila seorang hamba bersabar dan imannya tetap tegar maka akan di tulis namanya dalam daftar orang-orang yang sabar. Apabila kesabaran itu memunculkan sikap ridha maka ia akan di tulis dalam daftar orang-orang yang ridha. Dan jikalau memunculkan pujian dan syukur kepada Allah maka dia akan di tulis namanya bersama-sama orang yang bersyukur. Jika Allah mengaruniai sikap sabar dan syukur kepada seorang hamba; maka setiap ketetapan Allah yang berlaku padanya akan menjadi baik semuanya.

Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kelapangan lalu ia bersyukur maka itu adalah baik baginya. Dan jika di timpa kesempitan lalu ia bersabar maka itupun baik baginya (juga).”

Dapat memurnikan tauhid dan menautkan hati kepada Allah

Wahab bin Munabbih berkata, “Allah menurunkan cobaan supaya hamba memanjatkan do’a dengan sebab bala’ itu.”

Dalam surat Fushilat ayat 51 Allah berfirman,

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ – فصلت: 51 

artinya, “Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia di timpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.”

Musibah dapat menyebabkan seorang hamba berdoa dengan sungguh-sungguh, tawakkal dan ikhlas dalam memohon. Dengan kembali kepada Allah (inabah) seorang hamba akan merasakan manisnya iman, yang lebih nikmat dari lenyapnya penyakit yang di derita. Apabila seseorang di timpa musibah baik berupa kefakiran;, penyakit dan lainnya maka hendaknya hanya berdo’a; dan memohon pertolongan kepada Allah saja sebagiamana di lakukan oleh Nabi Ayyub ‘Alaihis Salam yang berdoa; “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Rabbnya ;”(Ya Rabbku), sesungguhnya aku telah di timpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”. (QS. Al Anbiyaa :83)

Ujian akan Memunculkan berbagai macam ibadah yang menyertainya.

Di antara ibadah yang muncul adalah ibadah hati berupa khasyyah (rasa takut) kepada Allah. Berapa banyak musibah yang menyebabkan seorang hamba menjadi istiqamah dalam agamanya, berlari mendekat kepada Allah menjauhkan diri dari kesesatan.

Ujian hidup Dapat mengikis sikap sombong, ujub dan besar kepala.

Jika seorang hamba kondisinya serba baik dan tak pernah di timpa musibah maka biasanya ia akan bertindak melampaui batas; lupa awal kejadiannya dan lupa tujuan akhir dari kehidupannya. Akan tetapi ketika ia di timpa sakit, mengeluarkan berbagai kotoran, bau tak sedap;dahak dan terpaksa harus lapar, kesakitan bahkan mati, maka ia tak mampu memberi manfaat dan menolak bahaya dari diri nya. Dia tak akan mampu menguasai kematian; terkadang ia ingin mengetahui sesuatu tetapi tak kuasa, ingin mengingat sesuatu namun tetap saja lupa. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk dirinya, demikian pula orang lain tak mampu berbuat apa-apa untuk menolongnya. Maka apakah pantas baginya menyombongkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia?

Memperkuat harapan (raja’) kepada Allah.

Harapan atau raja’ merupakan ibadah yang sangat utama, karena menyebabkan seorang hamba hatinya tertambat kepada Allah dengan kuat. Apalagi orang yang terkena musibah besar, maka dalam kondisi seperti ini satu-satunya yang jadi tumpuan harapan hanyalah Allah semata; sehingga ia mengadu; “Ya Allah tak ada lagi harapan untuk keluar dari bencana ini kecuali hanya kepada-Mu. ” Dan banyak terbukti ketika seseorang dalam keadaan kritis; ketika para dokter sudah angkat tangan namun dengan permohonan yang sungguh-sungguh kepada Allah ia dapat sembuh dan sehat kembali. Dan ibadah raja’ ini tak akan bisa terwujud dengan utuh dan sempurna jika seseorang tidak dalam keadaan kritis.

Banyaknya Ujian Merupakan indikasi bahwa Allah menghendaki kebaikan

Di riwayatkan dari Abu Hurairah secara marfu’ bahwa Rasulullah n bersabda; “Barang siapa yang di kehen-daki oleh Allah kebaikan maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR al Bukhari). Seorang mukmin meskipun hidupnya sarat dengan ujian dan musibah namun hati dan jiwanya tetap sehat.

Allah tetap menulis pahala kebaikan yang biasa di lakukan oleh orang yang sakit.

Meskipun ia tidak lagi dapat melakukannya atau dapat melakukan namun tidak dengan sem-purna. Hal ini di karenakan seandainya ia tidak terhalang sakit tentu ia akan tetap melakukan kebajikan tersebut; maka sakinya tidaklah menghalangi pahala meskipun menghalanginya untuk melakukan amalan. Hal ini akan terus berlanjut selagi dia (orang yang sakit) masih dalam niat atau janji untuk terus melakukan kebaikan tersebut. Dari Abdullah bin Amr dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam;, “Tidak seorangpun yang di timpa bala pada jasadnya melainkan Allah memerintah-kan kepada para malaikat untuk menjaganya . Allah berfirman kepada malaikat itu; “Tulislah untuk hamba-Ku siang dan malam amal shaleh yang (biasa) ia kerjakan selama ia masih dalam perjanjian denganKu.” (HR. Imam Ahmad dalam Musnadnya)

Dengan adanya musibah seseorang akan mengetahui betapa besarnya nikmat keselamatan dan ‘afiyah

Jika seseorang selalu dalam keadaan senang dan sehat maka ia tidak akan mengetahui derita orang yang tertimpa cobaan dan kesusahan; dan ia tidak akan tahu pula besarnya nikmat yang ia peroleh. Maka ketika seorang hamba terkena musibah; di harapkan agar ia bisa betapa mahalnya nikmat yang selama ini ia terima dari Allah Subhaanahu wata’aala.

Hendaknya seorang hamba bersabar dan memuji Allah ketika tertimpa musibah ;sebab walaupun ia sedang terkena musibah sesungguhnya masih ada orang yang lebih susah darinya; dan jika tertimpa kefakiran maka pasti ada yang lebih fakir lagi. Hendaknya ia melihat musibah yang sedang di terimanya dengan keridhaan dan kesabaran; serta berserah diri kepada Allah Dzat yang telah mentakdirkan musibah itu untuknya sebagai ujian atas keimanan dan kesabarannya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menukil ucapan ‘Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu; “Tidaklah turun musibah kecuali dengan sebab dosa dan tidaklah musibah di angkat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan bertobat. ” (Al-Jawabul Kafi hal. 118)

Oleh karena itulah marilah kita kembali kepada Allah dengan bertaubat dari segala dosa dan khilaf serta menginstropeksi diri kita masing-masing; apakah kita termasuk orang yang terkena musibah sebagai cobaan dan ujian keimanan kita ataukah termasuk mereka- wal’iyadzubillah; yang sedang disiksa dan di murkai oleh Allah karena kita tidak mau beribadah dan banyak melanggar larangan-larangan-Nya.

Baca Juga:

Memahami Takdir dan Menemukan Hikmah Yang Ada di Baliknya

Nikah adalah Ibadah

Nikah adalah ibadah, sebagaimana yang Rosululloh sampaikan dalam suatu hadits “Nikah itu adalah sunnah-ku, barang siapa membenci sunnahku, bukanlah bagian dari kami.”(Al Hadis). Demikian sabda Rasulullah untuk mendorong kaum muslimin menikah. Hadis ini juga sesungguhnya merupakan kunci dari langgengnya sebuah pernikahan. Saat Rasulullah bersabda pernikahan itu ibadah (sunnah), maka mengamalkannya adalah ibadah kepada Allah SWT. 

Pernikahan adalah Ibadah

___________________________________
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Selamat datang dan selamat membaca. Besar harapan Kami, selesai membaca saudara bersedia klik iklan yang tampil di artikel ini sebagai bentuk dukungan terhadap Religiseni. Terimakasih.

___________________________________