Advertisements
Imam Al Ghazali
Bagikan:

Tuduhan Para Orientalis Terhadap Al Ghazali

Awal tuduhan kepada Al Ghazali sebagai penyebab kemunduran sains di dunia islam muncul setelah ada para orientalis. Salah satunya adalah Ignaz Goldziher yang menyatakan bahwa kemunduran sains di dunia islam adalah karena suatu “conservative religious forces”. Tuduhan kepada al-ghazali juga dapat kita lihat dalam tulisan Giorgio De Santillana; Ketika memberikan pengantar pada buku sains dan peradaban di dalam Islam karangan Seyyed Hossein Nasr. Katanya Al Ghazali dengan kebijakan masyhur tidak mencolok secara intelektual seperti adanya; dan bagi kita secara etik tidak mengilhami, mulai membangun pusaran intoleransi dan fanatisme buta yang meruntuhkan bukan saja sains tapi sistem madzhab itu sendiri dan sesuatu yang agung; yaitu ijtihad. Di mana pemikirannya di kemudian hari,  di kuti ilmuwan Barat modern seperti Steven Weiberg , Richard Dawkins,  dan juga beberapa ilmuwan muslim.

Pandangan George Saliba Tentang Al Ghazali

Menurut George Saliba, kebanyakan orientalis mendasarkan tuduhannya pada asumsi terjadinya konflik antara agama dan sains. Paradigma ini mungkin berdasarkan pengalaman mereka di Eropa pada waktu revolusi ilmiah. Bagi mereka, Al Ghazali merepresentasikan golongan tradisi Ortodoks dalam Islam dan dengan kitab Tahafut yang di tulis pada abad ke-11 masehi. Mereka berasumsi bahwa pemikiran Ortodoks kaum agamawan memenangkan pertempuran dengan aliran rasional atau pemikiran ilmiah. Dengan asumsi seperti ini mereka beranggapan bahwa kemunduran sains dalam Islam; dan dunia islam tidak lagi memproduksi dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Salib menyebut tuduhan kaum orientalis bahwa Al Ghazali bertanggung jawab terhadap kemunduran sains di dunia Islam sebagai “classical narrative”. Hal ini kontradiksi dengan fakta bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang; dan tidak pernah berhenti dari awal perkembangannya di abad ke-8 bahkan setelah Al Ghazali wafat. Ilmu pengetahuan terus berkembang hingga mempengaruhi munculnya revolusi ilmiah di Barat.

Pendapat Cemil Akdogan

Berbeda lagi dengan Cemil Akdogan; menepis tuduhan terhadap al-Ghazali sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kemunduran sains Islam; membela al-Ghazali dengan menyajikan fakta bahwa justru al-Ghazali untuk pertama kalinya menghancurkan otoritas Aristoteles; dan pada saat yang sama menabur bibit-bibit filsafat mekanika pondasi metafisika untuk sains modern.

Alih-alih menghambat perkembangan sains,  beliau adalah seorang agen dalam memfasilitasi kemajuan yang lebih jauh. Sebagai seorang individu; ia telah mencapai untuk pertama kalinya antara tahun 1094 dan 1108 hal hal yang sama seperti apa di capai orang-orang Eropa selama lima abad; yaitu akhir abad ke-12 hingga abad ke-17. Dengan demikian ia mensimulasikan individualisme, suatu pemikiran yang bernilai pada zaman Renaissance, dalam cara yang paling baik dan alih-alih mengikuti otoritas filsafat, Iya menyerang dan menghancurkan ide-ide Bid’ah Aristoteles dan Aristotelianisme dalam 3 tahun yaitu tahun 1092 hingga 1095.

Menurut Cemil, ada tiga hal Mengapa mereka keliru menempatkan sosok al-ghazali sebagai Orang yang bertanggung jawab atas mundurnya sains di dunia Islam.

Yang pertama, sebuah pertanyaan mengemuka bagaimana mungkin al-ghazali seorang pemikir religius yang tanpa kuasa politik mampu menghentikan perkembangan sains hanya oleh dirinya sendiri?.

Yang kedua, Bagaimana menjelaskan fenomena maraknya penemuan dan aktivitas lain setelah wafatnya Al Ghazali?. Dan yang ketiga; menjelaskan bahwa beliau tidak pernah menyerang sains, tetapi metafisika Aristoteles yang di kembangkan oleh Al Farabi dan Ibnu Sina. Setelah Al Ghazali meninggal, sains tidak surut namun justru semakin berkembang, terutamanya dalam aritmatika dan astronomi.

Mendukung Sains Islam

Al Ghazali
Al Ghazali

Apabila kita membaca Tahafut al- Falasifah dan buku-buku lain karya Al Ghazali, tidak di temukan ungkapan bahwa beliau menolak sains. Justru ia mendukung sains empiris dan tidak berminat untuk menyelisihinya. Perhatikan pernyataan al-Ghazali sebagaimana di kutip Cemil melalui Watt dalam jurnal Islamia: ilmu matematika meliputi aritmatika, geometri dan astronomi. Tidak ada dan hasil-hasilnya yang berhubungan dengan masalah-masalah agama, baik yang menolak maupun yang menegaskannya. Ilmu ini adalah masalah-masalah demonstrasi yang tidak mungkin di tolak jika ilmu ini di pahami dan di kuasai.

beliau juga menyatakan bahwa “Kita tidak tertarik untuk menolak teori fenomena alam, karena penolakan itu tidak mempunyai tujuan apa-apa. Orang yang berpikir bahwa tidak mempercayai hal-hal itu (sains); bentuk kewajiban agama telah bertindak tidak adil terhadap agama dan melemah fondasinya”. Ia memperingatkan kaum muslimin untuk tidak menyerang sains. Bahkan ia pun mengatakan, “Pernyataan anda itu (bahwa sains bertentangan dengan agama) akan mengguncangkan keimanan pada agama”.

Al Ghazali Mengkritik para Filosof

Jadi sekali lagi Al Ghazali tidak mengkritik sains, namun mengkritik pendapat para filosof. Justru kritikan beliau terhadap filosof itulah dalam kitab Tahafut yang merupakan bangunan dasar filsafat mekanika, yang telah di adopsi oleh David Hume dan di jadikan landasan kebangkitan sains di Barat. Kemudian, beliau merangkum seluruh kesalahan pendapat kaum filosof dalam kitab Tahafut dan menyimpulkannya dalam 20 poin. Tiga di antaranya harus di anggap kafir jika mempercayainya dan 17 lainnya termasuk bidah. Yang tiga pendapat itu adalah pendapat filosof tentang tidak adanya kebangkitan tubuh (fisik) atau hanya ruh saja; mengatakan Tuhan hanya mengetahui hal-hal yang mini fersal; tidak mengetahui yang partikular dan mengatakan bahwa alam ini kekal tanpa awal.

Kontribusinya terhadap sains Barat

Pembahasan tentang peran Al Ghazali dalam mengembangkan sains Islam dan juga berkontribusi terhadap kebangkitan sains di dunia Barat; sepatutnya mengilhami kaum muslimin di abad modern untuk melakukan kebangkitan di bidang seni Islam.

Umat Islam harus mengislamisasi sains modern melalui proses; sebagaimana kaum muslimin awal di abad pertengahan melakukannya di antaranya adalah Al Ghazali. Pelurusan sejarah abad pertengahan khususnya peran beliau dalam sains merupakan landasan bagi kebangkitan Islam di abad modern; jika umat mengetahui dan memahami nya. Dengan landasan yang benar; proses Islamisasi sains Barat modern akan berjalan sesuai dengan relnya karena kita pernah melewati jalan yang sama.

Baca Juga: Ibnu Batutah dan Kisah perjalananya keliling Dunia


Bagikan:

By admin

Terima kasih telah membaca. Kami berharap anda memberikan saran, masukan dan komentar.